Feeds:
Tulisan
Komentar
semoga damai tersebar atas bumi

semoga damai tersebar atas bumi

Entah kenapa, kalo lihat foto ini gau selalu bergetar.
Ceitanya gini, gua sudah memutuskan akan Menginjakkan kaki di Puncak tertinggi di negeri ini 3776 mdpl.. Gunung fuji,.

“Dika lu liburan musim panas ini ke mana?” tanya Cassie
“Gua akan naek Gunung Fuji Cass..!!” sahutku
“Serius lo?!”
“Iya!!”
“Dengan siapa?” tanya dia lagi
“Sendiri!!”
“yah, paling dengan temen gua di Tokyo, si Syafril”, tambahku

“Lu kemana Cass?” kataku balik tanya
“Gua mau keliling Jepang.” jawab Cassie
“Udah ikut gua aja, kita menginjakkan kaki di puncak tertinggi negeri ini, puincak para dewa”

“Cassy, coba yah lu pikir kita di sini cuma setahun, lu S2 mau ke europe. Kapan lagi Cass, menorehkan sejarah dalam hidup kita. Mengibarkan sang saka di puncak tertinggi negeri ini”
“Fuji cass,, fuji!!”

Sejenak dia berpikir…
“Ehmm, apa aja yang perlu dipersiapin?”
“Baju dingin, and sepatu!” jawabku
“Itu aja?!”
“Iya…”

“Oke gua ikut…..” jawab cassy.. yeeeeey

Nah jadilah akhirnya gua ada partner,… Coba gak ada cassy… siapa yang ngambil gambar ini…

hahahahha

************************************************************
Mt. Fuji 3776 mdpl, may peace prevail on earth

Bendera sang saka sudah dikibarkan, semua sembah sujud telah kepersembahkan kepada Rabb yang Maha Agung.
Di hadapan semesta, dan seluruh penghujung langit, terlihat diri ini hanya secuil diri yang kotor dan angkuh…
Ya Rabb,, maavin aku yah.. ampunin segala salah kami
Berikanlah petunjuk kepada kami, meraih puncak tertinggi di hadapan-Mu

Di hadapan-Mu, Tanpa Hijab!!

Aku menyerah, dan aku sadar semua telah berubah. Teman-teman telah jauh meninggalkan aku. Ada yang sudah lulus, beraktivitas-berprofesi, bekerja, sekolah lagi, dan yang terpenting dari mereka telah banyak yang sudah menorehkan tinta-tinta emas dalam peradaban manusia, baik yang terlihat maupun dalam alam metafisik,. Aku yakin Malaikatpun kagum dan mendoakan orang-orang yang secara totalitas berjuang demi sebuah kebaikan.. Yap! Meskipun hanya sebuah saja.

Aku menerima dengan sadar kondisi ku sekarang, Mahasiswa Tingkat Akhir sekali dengan status SP1 (Surat Peringatan #1). Oke, belum seminar, penelitian belum selesai,, sedikit lagi, ibadah ku mulai tidak inklusiv, tutur kata yang kadang tidak terjaga, pandangan yang terlalu liar, fantasy yang kelewat batas. dan segala macam tentang hitam-putih -nya Dika. Aku terima, dan aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa.

Kalaupun ini sebuah kegagalan hidup bagiku, aku pasrah dengan kegagalan ini. Lebih baik aku gagal dan bangkit lagi daripada orang-orang yang tidak melakukan apa-apa karena begitu takutnya membayangkan kegagalan. Tapi di sekitarku sudah tidak ada lagi mereka yang seperti itu. Mereka semua sibuk mengemis cinta pada Tuhan-Ku, bekerja keras untuk hidup dan menghidupi, mengembangkan diri menjadi orang yang tidak cukup baik saja melainkan mempersiapkan diri menjadi orang-orang besar…

Aku ketinggalan langkah. Sial..!! Ya, aku terima. Kita lihat saja siapa yang tersenyum di akhir…

Allahumma bariklana fi rajaba, wa syabana, wa balighna Ramadhan … Ya Rabb, miss u.. muuaaachh!!

hahaha.. udah lama gak buka page ini.. ehh ternyata tulisan terakhir gue tentang STA alias sindrom tingkat akhir. Udahlah,, gak mau terbebani banget dengan STA. yang jelas hari ini gua beres “menyudahi” satu UAS “ujian agak serius”. masih ada hari selasa, ujian tulis dan ujian praktikum; rabu, ujian praktikum dua mata kuliah; kamis, my last exam day.. then??!! selesai deh. Alhamdulillah segala puji bagi Tuhan.
What next? yang jelas masih ada tanggung jawab terakhir untuk MEREBUT KEMBALI TAHTA MAHASISWA… Skirpsi!!

Di saat entire of my friend have finished already,., gue sebagai laskar2 terakhir yang dapet excuse karena satu tahun cuti.. (pdahal kagak boleh juga yee??? Rabb, piss semua berjalan atas kehendak-MU) gak boleh ngiri dengan yang udah lulus duluaan yaah.. hehehe

Bismillah, kawan2 sekalian, blogger sejagat, dan semesta, cita2 tertinggiku di dunia tahun ini adalah menuntaskan sarjana untuk persembahan terbaik kedua orang tuaku. Kan kubanggakan mereka,, tunggu aku GWW.. muaaacchh.. Pak dekan,, sabar yahh untuk geser toga gue… PW??!! siapa kah yang beruntung ituu,,, apakah A? apakah B? Apakah C? Apakah D? Apakah E?? Buuuuuaaanyyyak amaatt dika.. heheheh

rileks lah bos.. c’mon.. ayooo melompat lebih tinggii….

dika

Akhirnya aku dapat jawaban yang lebih rasional dan powerfull mengapa para pendaki serasa menemukan jiwa yang sesungguhnya di puncak gunung??

Seharian penuh, aku uring-uringan menghadapi laporan-laporanku yang belum selesai. Dan memang tak akan pernah selesai ketika hanya menggerutu dan mengeluh. Semalam sudah aku tekadkan menyelesaikannya dalam malam itu. Namun pikiranku serasa full and stag. I dont know. Aku terlalu berpikir kompleks buat laporan yang menurutku, bagi mahasiswa tingkat 3 adalah sederhana. Mereka menerima apa adanya, mengerjakan, dan menyelesaikannya. Tapi menurutku tetap seadanya. Hatiku selalu melawan dan melakukan perlawanan.

“Ini yahh.. laporan ini menurut gue gak sesuai dengan tujuan apa yang ingin dicapai”

“Tujuannya adalah agar mahasiswa mengetahui cara menganalisis rumput laut kering”

“Catet: mengetahui cara MENGANALISIS…!!!” “Artinya tujuan ini bersifat praksis, dan kalau mau tahu parameternya laporannya gak gini, buat aja praktikumnya semua mahasiswa melakukan pengujian dan buat kesimpulan akhir, itu mutu rumput laut kering bagaiamana,.. pake kuesioner yang isinya: APAKAH ANDA sudah MEMAHAMI CARA UNTUK MENGANALISIS MUTU RUMPUT LAUT KERING?? Terus ada ujian praktikum lagi”

“Gak tau yahh,,, gue feel ini agak kurang sesuai aja… TINPUS nya diusahakan lengkaplahh, da info ini lahh,, ituu lahh yang sebenernya gak kepake…. untuk menjadi sebuah referensi pembahasan..”

“Di tingkat akhir kaya gini, gue ngerasa sistem pendidikan kita ini kaya tembok tinggi yang besar dengan kurikulum bertumpuk, yang peserta didiknya terkungkung, Gak tahu mau menjadi apa…”

“Kita lihat aja nanti,, ketika lingkungan luar kampus sudah mulai terlihat, berapa banyak ilmu yang bisa diaplikasikan”

Gua rehaat aahh.,.. capek!

***

Dalam-dalam aku berpikir, menikmati sajian waktu Dhuha yang luar biasa indah. This is perfect.

“Rabb, aku yakin cobaan yang engkau berikan tidak akan melebihi kapasitas yang aku miliki”

“Rabb, yang Maha Adil, Yang Maha Kasih dan Sayang, aku yakin betul dengan kekuasaanmu,,, Rabb..”

“Berikanlah aku kesempatan untuk belajar dari semesta, dan jika aku menjadi guru, jadikanlah aku guru sekolah alam semesta”

***

Aku ingat,, ketika dulu menyelam di Okinawa

“BaaaAANg, apa sebenarnya kenikmatan seorang penyelam??”, teriakku sembari water trappen kepada rekanku.

“ehhmmm apaa yahhh??? ketikaaa diaaa bissaaaa melihaaatt duniaaa yangg oraangg laaeen gaaak bisaaa lihaat”.. jawabnya sambil mengatur nafas.

Terus apa donk, kenikmatan bagi seorang pendaki gunung??

Ketika menjejakkan kaki di puncak gunung, itulah kenikmatan bagi semua pendaki gunung. Persoalannya bukanlah terletak pada puncak gunungnya. Pemandangannya pun biasa saja, tetapi mencapai puncak sebuah gunung, dan memandangi seluruh semesta setelah keluar masuk hutan, menapaki dinding-dinding cadas, bercanda dengan dahaga, bermandi debu, berpapasan dengan tepi jurang dan pusara, maka di sanalah terdapat sebuah kenikmatan “kemenangan”. Kemenangan sebuah proses.

Puncak mahameru dapat dilihat di youtube, di search di google. atau dibaca di novel 5 cm. atau pergi dengan helikopter dan menjejakkan kaki di puncaknya.. Tetapi PERASAAN SEBUAH KEMENANGAN…. Kenikmatan sebuah akhir perjuangan akan berbeda rasanya Tanpa “PROSES PENDAKIAN”..

hupffhh..

Akhirnya, aku membuktikan kalau janji Allah benar.

Take Action Miracle Happen, No Action Nothing Happen

Tidak percuma duduk seharian di depan laptop. 1 laporan fully completed, 2 laporan tinggal haspem. malam ini kerjakan 2 laporan lagi dan finishing yang dua…

Siap2 buat UTS/.. MEstaAKuuNG!!..

bismillah

dika

ngeliat judul nya aja, boleh dong setiap orang punya interpretasi yang beragam. Yah, paling tidak bagi orang-orang yang pernah mengenyam bangku kuliahan pasti pernah ngerasain yang namanya tingkat akhir.. terus apa hubungannya dengan sindrom?? Gejala penyakit apaan tuhh…

Tapi gua gak taulah,, gua sih ngeliatnya ada gelagat yang beda aja dari anak-anak yang sudah masuk tingkat akhir especially kayak gua yang saat ini sudah memasuki tahun ke lima. Ada yang malessssnya nauzubillah,, ada yang kadang suka jerit-jerit di kamar sendirian, ada yang maunya maen PS sehariann,, ada juga yang diisi dengan hal positif, bisnis contohnya yaa..

Dan tahun ini merupakan tahun terakhir gua ( i hope,, huhuhu ) setelah mendapatkan surat peringatan untuk segera hengkang dari kampus,, atau,,, “dipulangkan” huuuu tidak yah. Terlihat sepele siy, sekedar ambil mata kuliah yang belum, ikut praktikum, kerjain laporan, buat proposal, penelitian ngedraft, lulus, cari kerja, nikah, berumah tangga, dst.

Tapi gak sesederhana itu juga sihh,, Tapi gue yakin masalah dan cobaan besar diperuntukkan bagi orang-orang besar. Kalo lagi kerasa berat berarti sedang nanjak, kalo berat banget mungkin tanjakan yang akan dicapai pun curam. Dan kalo berhasil tentunya jadi lebih tinggi.

Ya udah daripada mengawang-awang hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima dulu. Dan gua menerima sedang terjangkit yang namanya STA. sudah. so whats next??
Hari-hari ke depan menjelang kelulusan yang belum kelihatan akan menjadi perjalanan dan momen-momen bersejarah yang luar biasa… ahahhaha…

Terima, tersenyum, jalani dan bersyukur..
Kebahagiaan adalah milik orang-orang yang bersyukur.

Kalau STA adalah sebuah penyakit maka aku bersyukur atas sakitku ini. Karena orang-orang sakit diberi kesempatan bercerita kepada Rabb nya tanpa hijab… hahahha

Menimati keterasingan

“Sesungguhnya agama ini dulu asing dan akan kembali asing” -dan berbahagialah orang-orang asing-

Sejenak merenung ternyata benar, di tengah keramaian kadang aku menikmati keterasinganku.

Peduli salah atau benar tentang persepsi mereka tentang aku, sebab semuanya pun tidak perlu dinilai dengan kontradiksi biner benar dan salah.

Menikmati perasaan keterasingan di tengah kejumutan agitasi masa yang memang bukan fitrahnya lagi

Haus inspirasi, miskin motivasi dan enggan bercita-cita

Mudah-mudahan pencerahan kan segera hadir

Menyelinap dalam seluruh ruang kalbu

di tengah diriku menikmati keterasingan berdua dengan Rabb-ku

berdua saja, tanpa hijab!

dika saputra

Bismillahirrahmanirrahiimi

Fhuuuhhh!!,,,, sudah lama sekali rasanya ruangan maya ini kutinggalkan, sejak kepulangan dari Jepang: Negeri yang Mulai Kumengerti, sejak akses internet tidak se-spektakuler dahulu, sejak tanggung jawab kembali dipikulkan di pundak ini, dan sejak impian kami di negeri Indonesia dengan segala rupa-rupa, problematika dan romantisme nya, kutulis juga lembaran-lembaran kisah barunya “Ksatria11″.. cie-cie!!

Biarlah yang satu tahun lalu itu, ibarat hadiah yang Allah telah berikan. Tidak pernah terbayang sebelumnya seorang anak penjual es lilin bisa berkunjung ke negeri sakura dan menginjakkan kakinya, mengibarkan bendera sang saka merah putih di puncak tertinggi Gunung Fuji (Puncak Semayam para Kaisar). Thanks ya Allah. Tinggal sekarang bagaimana mengamalkan ilmu yang sudah didapat di sana, serta memotivasi rekan-rekan sekalian untuk tampil dan tumbuh lebih baik lagi.

Awalnya, saya sungguh minder kembali ke tanah air. Mungkin sebagian orang melihat “wah”, namun ada perasaan khawatir serta perasaan “tertinggal”. Melihat rekan-rekan masih “militan” seperti dahulu, berjuang untuk terus mandiri dan bermanfaat, berlomba-lomba untuk terus berprestasi di mata Allah, dan tampil menjadi juara. Perasaan iri terhadap rekan-rekan yang masih terus semangat meramaikan forum-forum ilmiah, rapat-rapat organisasi kemahasiswaan, diskusi-diskusi masalah kerakyatan dan kebangsaan, menyelesaikan amanah orang tua (sarjana) dan berprofesi; lambat laun pertanyaaan BESAAArrr terus menganggu isi kepala saya..

SIAPA KAMU?

BUAT APA KAMU ADA?

APA YANG SUDAH KAMU BERIKAN KEPADA UMAT?

MENGAPA KITA HARUS KAYA DAN BERCITA-CITA?

BAGAIMANA LANGKAH YANG HARUS DICAPAI?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus saya coba untuk divisualisasikan, dicoba untuk dijawab dengan hati nurani yang bersih.

Sudah saatnya kembali belajar dan mempersiapkan diri menajdi seorang pribadi soleh, mandiri, cerdas dan juga memliki rencan hidup yang jelas. (Life by design)

Yang berlalu biarlah menjadi koleksi referensi hidup. Sekarang waktunya menatap masa depan, membuktikan kompetensi, dan juga membuat mimpi menjadi nyata.

Saya yakin dengan kekuatan mimpi, “Allah itu sesuai persangkaan hambanya”, Dia yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Berkehendak, dan ketika Dia ingin menjadikan sesuatu hanya berkata “Kun (Jadilah)”, Maka “fayakun (terjadilah”. Tidak ada kata yang tidak mungkin bagi Allah bagi orang-orang yang dikehendakinya. Dan juga saya yakin kalau “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri”

Ketika impian-impian kita (saya dan Anda), memiliki kebaikan bagi orang lain, masyarakat dan bangsa saya yakin Allah pasti akan menyelesaikannya.

Masih ada harapan dan impian saya terhadap negeri ini. Untuk itu kepedulian kita harus terus diasah. Masih banyak orang miskin di Indonesia ini, untuk itu kita harus KAYA agar dapat membantu mereka dengan Ide-ide cemerlang kita (misal: melalui pemberdayaan) dan dapat mewujudkannya tanpa masalah ruang, waktu dan dana.

Tiga bulan beradaptasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dari Jepang (sumpe deh jauuuh berbeddaa banget), tentunya kadang membuat hati nurani terus diasah akan kenyataan yang ada. Tapi di sinilah seharusnya kita tumbuh dan berkembang menjadi orang besar. tumbuh dari masalah.

Beragam masalah inilah yang harus kuhadapi dengan penuh tanggung jawab. Tidak ADA kata GAGAL yang ada hanya BERHASIL atau BELAJAR.

Alhamdulillah, Allah telah memperkenankan saya untuk:

Memulai penelitian untuk tugas akhir, mudah-mudahan SUDAH selesai Maret 2009

“Ayo jangan pernah mengeluh lagi”

Sebelum Cita Dijelang, Sebelum Sampai di Pantai Cita

Haram Surut Mundurpun Pantang

La Takhaf wala Tahzan, Innallaha Ma’ana

Ada satu hal yang sangat menarik bagi saya, yaitu konsep segitiga “TAKDIR”, “IKHTIAR”, dan “TAWAKAL”

Allah dengan sengaja meng-hidden- menyembunyikan TAKDIR, namun kita HARUS Percaya terhadap hal yang sifatnya ghaib (Salah satu ciri orang beriman), dan juga Qada-Qadhir datangnya dari Allah. Nah, maksudnya adalah, kita dituntut oleh Allah untuk berIKHTIAR dilanjutkan dengan BerTAWAKKAL (menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan ikhlas).

Misalnya Allah membuka tabir TAKDIR “kita adalah orang kaya”, mungkin kita akan malas berusaha karena kita berpikir “takdir kita orang kaya”. Atau

Allah membuka tabir TAKDIR “kita adalah orang miskin”, maka segenap usaha, berpeluh keringat akan terasa sia-sia. Tidak akan pernah ada kata HARAPAN dan “HOPE” di dunia ini.

Setelah itu, Allah mengajarkan kita untuk TAWAKAL.

Ada sebuah doa yang diajarkan oleh ayah saya:

“Ya Allah jika perkara ini membawa kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhiratku maka perkenanlah bagi kami, tetapi jika perkara ini membawa keburukan bagi kehidupan dunia dan akhiratku, maka jauhkanlah atau tunda”

Kita berawal dari tiada dan akan kembali ke tiada. Tidak akan ada kata rugi bagi orang-orang bertawakal dan bagi orang-orang yang oleh Allah ditunjukkan sebaik-baik jalan.

Nah, ditambah lagi di dalam al-Quran Allah mengatakan:

“Apabila telah selesai perkara yang satu maka kerjakanlah perkara yang lainnya…”

SUBHANALLAH,,

yang ada hanya kata TAWAKAL-IKHTIAR, TAWAKAL-IKHTIAR, TAWAKAL-IKHTIAR

yang ada hanya ADA Kata SUKSES atau BELAJAR. Insya Allah.

Saya Yakin, ANDA dan SAYA bisa MERAIH Mimpi-Mimpi Kita..

Never Give up

dika

"Aku melihat di atas awan"

"Aku melihat di atas awan"

Visiting Japan was always my dream. After senior high school’s graduation ceremony, I told my friend that someday I would go to Japan for any reason such as study, vacation or participate in a competition (to win a prize). Presently I am fourth year bachelor degree student at Bogor Agricultural University. I was always looking for an opportunity to go to Japan. I saw that my dream can become a reality. I was surfing the net. Bingo!! I saw the advertisement for a writing contest conducted by “Japan Airlines (JAL)”. It offered a fantastic prize, the trip to Japan for 22 days. Wow, Could it be. But sadly, the contest must be written in Japanese letters. I was sad but didn’t give up. One day, my friend gave me a flier which contained information about exchange students to The University of The Ryukyus, Okinawa Japan. I decided to join that program, and my journey begun.

October 1st, I arrived at Okinawa after came an overnight stop over at Taiwan. Nice-blue skies; beautiful cities; kind people was the impression I had of Okinawa. I was so surprised when I saw my room in “Senbaru Dormitory” B412. Oh my god! My floor was so dirty and unregulated well. A lot of ‘manga’ all over the floor, CD-Games were scattered in the living room. I felt so bad at that time. But, my Japanese friends extended a warm welcome to me. They were very enthusiastic talked with me. Maybe, I could learn Japanese language from them, I thought. At that time I forgot the situation of the dormitory and thought that I am here is learn and I can cope with this. To my surprise my bad memories of the dormitory was shout lived as I was moved to another dormitory building which was more clean and comfortable. My floor mates friendly, irrespective of their shy behavior

When I came to Okinawa, it was the holy month of Ramadhan, as a Muslim student I must fast during the day. No family, no friend(s), cooking by myself, fasting during the day, adapting with new circumstances, learning Japanese as soon as possible were my most difficult times. Gradually, I could enjoy life in Okinawa. Learning Japanese language, practicing my research with the microalgal topic under the guidance of Prof. Dr. Shoichiro Suda, making a lot of friends and joining international student football club made me a much happier person.

I got an opportunity to visit mainland Japan (Kyoto, Nara, Siga, and Osaka) through the international student trip program. Actually, the trip was conducted for the final year graduate students. Because the seats were still available, they gave chance to the exchange student to join that program through lottery. As an exchange student, I registered, and I was selected. Should call myself lucky or; what do you think? With meager five thousand yen, we could go to mainland for three days and two nights including airfare, transportation, and accommodation. How lucky am I!!

International Student Japanese Language Speech Contest

International Student Japanese Language Speech Contest

Having learned Japanese language for about four months, I participated at “Ryukus University International Student Speech Contest 2008”. I took part at the basic level. I talked about my great experience during the trip to mainland. At that time, I told about my first experience seeing the snow and entering the onsen. The audiences were cracking up while listening to my speech. Fortunately, I was a prize winner along seven other students.

My journey hasn’t finished yet. I don’t want my time here wasted. I want to learn everything that I can, and improve myself but I know time is running out. Practicing research, taking Okinawa history class, playing football, snorkeling, and I join to “The Ryukyus University Taekwondo Club”. It was tiring but I was enjoying. I learn and enjoy at the same time. Besides that, I took up diving lessons here in Okinawa under “Japanese Underwater Diving Federation (JUDF)” certification. I dived at a few diving spots in Okinawa such as Cape Maeda, Sunabe and Odo Beach. Now, I am proudly said I got my diving license in Okinawa, Japan. Okinawa is known for its beautiful underwater scenery that explains the reason why so many tourists come visit Okinawa especially during the summer time. By diving, I prove it is true. I like hiking and mountain climbing so I decided before I go back to my country I would hike up to mountain Fuji, the highest mountain in Japan. Finally, I could set foot on the highest peak in Japan (3776 m from the sea level). Amazing!!

I shall leave Okinawa, Japan with loads of memories that I shall cherish life long. I am grateful to JASSO who support my finances during my exchange program (STRP), The University of The Ryukyus, all of my teachers especially Prof. Dr. Shoichiro Suda who taking care and teaching me many things, Okinawa for its exotic culture and thousand experiences, and all of my friends who made my stay a memorable one. See you next time on another part of the earth. I will miss you guys, Peace!

“May Peace Prevail on Earth” (Mt. Fuji 3776m)

合格

合格!! (Goukaku)

Review terakhir selama tiga puluh menit dalam kolom air kurang lebih lima meter itu berakhir dengan kata “合格” yang dibaca “Goukaku”

Awalnya aku tidak paham sama sekali. Mulai dari: mask clearing, regulator finding, emergency rescue, regulator changing, hingga melepas seluruh scuba set dan memakainya kembali. Instruktur selamku, yang biasa kami sapa ‘Fukuzato-San’ pun menuliskan kata “OK” dan meminta kami mengulangi bagian terakhir latihan itu.

“GOUKAKU”, tulisnya.

yang artinya “LULUS”.

Latihan ke sepuluh itu menjadi bagian awal kami menyelesaikan sertifikasi selam “Japanese Underwater Diving Federation (JUDF)”

Masih ada jalan panjang membentang. Masih banyak laut yang harus diselami sama seperti puncak-puncak gunung yang mesti diambil pembelajarannya.

Selama laut masih biru, maka tanggung jawab besar memeliharanya agar tetap biru.

(dedicated to my father who always support me do every positif things)

dika

[ini postingan request dari kawan yang ingin nama mereka masuk dalam dika`s story series]

Banyak orang bilang antara “benci” dan “cinta” itu hanya sehelai benang bedanya. Yah, memang isi hati siapa yang tahu, tetapi kadang kita juga tidak bisa menebak ke arah mana hati kita akan berlabuh. Ketika bersama, rasa benci, dengki dan persaingan seperti tak akan terhindari. Namun ketika berpisah sama lain, mungkin ada rasa rindu juga. Gelisah itu bukan kala bersama, melainkan ketika jauh dengannya.

Hal ini aku jumpai kepada dua rekanku, namanya Rafiz dan

Mije dan Ajis

Left: Ajis, Right: Mije

Hamizan. Kedua kawan ini adalah sejoli dari negeri jiran, Malaysia. Sudah lama sejak kelas persiapan bahasa Jepang selama dua tahun di Malaysia, kini keduanya mengadu nasib di negeri matahari terbit, Jepang tepatnya dalam kehidupan eksotisme budaya Okinawa.

Persaingan di antara keduanya kerap tak bisa dihindari. Rafiz yang ingin dipanggil akrab dengan nama “Ajis”, sang karib pun berganti nama sapaan “Mije”. Berada dalam satu jenjang di mayor “mechanical engineering”, university of the ryukyus, tinggal dalam satu apartemen yang mereka sewa dekat dengan kampus setelah satu tahun tinggal di asrama universitas.

Keduanya, saat ini sedang menggiatkan diri untuk menata tubuh alias muscle building. Kontan saja persaingan semakin menarik. Di satu sisi Ajis sedang melakukan angkat barbel, Mije pun asyik dengan sit-up nya. Tak puas melihat Mije sit-up, Ajis yang tak puas hati segera berganti menu latihan turut sit-up juga. Mije pun ambil alih latihan angkat barbel.

Dengan gagah keduanya berpose di depan cermin saling memperagakan badan mereka yang sejak dua bulan ini, memang harus diakui, sudah mengalami perubahan. Walaupun tidak begitu signifikan. Itu pendapatku. Tetapi entah mengapa keduanya tidak mau saling mengakui dan mengapresiasi “self progress” masing-masing.

“Jis, apa benda ni, macam petak-petak lo, badanku?”, tanya Mije sambil menunjuk garis-garis bentuk di perutnya.

“Weey, apa hal tu, biasa saja lah”, Ajis mencoba menutupi kenyataan.

“Ini badanku lebih bagus lagi, dadaku lebih maju, tengoklah!!”, tambah Ajis.

“kau cakap jujur lah, badanku lebih bagus!”, kata Mije yang tak terima.

“tak, kau cakap dulu,, baru aku jujur”, Ajis tak puas hati

“Okelah, badan kau ada perkembangan sikit”, Mije mencoba jujur

“Sekarang kau jujur!” ganti Mije minta pendapat Ajis tentang badannya

“Dengar, badan kau tu, tak nampak apa-apa!”, jawab Ajis simple.

“Apa hal, tipu kau”, sergah Mije sudahi pembicaraan.

Lain cerita lagi ketika musim ujian datang. Secara kasat mata, memang Mije lebih rajin daripada Ajis. Dua hari menjelang ujian, Mije sudah memulai belajar, mengumpulkan materi, berlatih soal dan duduk tekun di meja belajarnya. Sementara Ajis, masih mengeluh dengan segala “ketidak beruntungannya”. Entah masalah partime job yang melelahkan, entah masalah dengan kelas bahasa Jepangnya, entah masalah pribadinya dan impian-impiannya dengan wanita Jepang. Tetapi banyak orang bilang, Ajis pun tak kalah cerdasnya. Belajar bagi dia tidak perlu lama-lama. Pernah sekali aku lihat, esok pagi adalah waktu ujian dan jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Sementara Mije menyelesaikan latihan soal-soalnya, Ajis lebih memilih tidur dan memulai belajar di pagi hari. Namun setiba usainya ujian, Ajis keluar ruang ujian lebih dahulu, sementara Mije masih berkutat dengan kertas ujiannya. Perkara hasil dan nilai akhir, aku tak pernah tahu. Pastinya semua memiliki self satisfaction masing-masing.

Rasa persaingan di antara keduanya memang sangat wajar dalam diri anak muda yang sedang bergejolak. Semua ingin berjuang menjadi yang terbaik. Semua ingin eksistensi nya diakui komunitasnya. Semua ingin berjuang menata diri menajdi yang terbaik dalam bidangnya masing-masing. Sebab jati diri bukanlah masalah pencarian melainkan sebuah proses penciptaan.

Isu terpanas, adalah pembentukan “MFC-Mije Fans Club” yang memang secara non-hukum sah adanya. Hal ini diutarakan Mije usai latihan sepak bola dalam acara Vending Machine Meeting. Dengan `menunjuk`, Mohd. Norelliyas sebagai Presiden dan menunjuk Ajis sebagai vice presidennya. Saat itu, Ajis sedang tidak ikut serta, walhasil mendengar berita itu, beliau pun tak mau kalah. Dengan mempublikasikan `telah dibentuk` nya pula AFC-Ajis Fans Club kepada rekan-rekan terdekat dan mengaku `telah menjadikan` Mije sebagai marketing director nya. Tentu saja, hal ini manjadi gelak-tawa bagi kawan-kawan Indonesia-Malaysia di sini. MFC dan AFC memang hanya klub buatan dan fiktif keberadaannya. Namun secara esensi mengandung muatan persaingan yang erat di antara pemilik nya, Mije dan Ajis berturut-turut.

warung kopi

warung kopi

Namun, tak jarang pula, keduanya masak bergantian. Hari ini Mije masak, dan melebihkannya untuk Ajis. Sering juga Ajis masak dan mengajak Mije makan bersama sebagai tanda ingatan karib sahabat. Ya, itulah rasa sebenarnya Mije dan Ajis yang duduk bersebelahan malam ini ketika kami sekedar duduk minum kopi di salah satu sudut Okinawa, tak jarang pula tertawa bersama atas obrolan yang diperbincangkan.

Mulut boleh berkata bohong, hati bisa tidak berkata jujur. Namun rasa selalu mencoba memunculkan perangai yang terkandung di dalamnya. Bersaing namun tetap saling peduli. Merasa lebih baik, namun saling memberi koreksi. Menjatuhkan, untuk saling meninggikan. Itulah saat-saat benci menjelma menjadi rasa cinta yang memenuhi keduanya walau tak ingin secara lugas menyampaikannya. Karena memang, cinta tak selalu berwujud bunga.

Selasa, 22 July 2008

andika saputra

(sebuah profilisasi: Hamizan bin Idris & Rafiz Firdaus)

Tulisan Sebelumnya »