Feeds:
Tulisan
Komentar

B.O.R.I.N.G

setidaknya itu yang menjadi kesan hari ini. Event yang diberi tajuk IBD 2009 ini diselenggarakan di Gedung Graha Widya Wisuda IPB. Acara dibuka dengan talkshow about .blog. bersama bapak bloger ipb, Prof. TB Sjafri Mangkuprawira and the gank. EHmm, entah gua nya yang sedang gak connect or tidak antusias mengikuti niy acara atau memang atmosfer yang diciptakan oleh talkshow sesi pertama agak ngebosenin. tapi kadang-kadang tepuk riuh penonton juga menggema koq.. pilihan aja sih.

Harapan pertama dari event ini dalam imajinasi gua adalah acara yang gegap gempita, peserta interaktif dan antusias. Apalagi bakal ada “pemecahan rekor MURI: blog posting dengan laptop terbanyak”…
ehhmm,, tapi gak tau juga siy, mungkin mereka yang hadir memang “sudah” blogger. Yah jadinya sejak acara tadi pagi dimulai mereka sudah sibuk ngoprak-ngoprek laptopnya.. Ngapain?? gak tau juga. Ada yang memang lagi posting2, ada yang fb2 an, ada yang baru mau buat blog.. kaya kawan yang duduk di samping gua ini. Sebut saja wanita berinisial “N”.. hehehe

Kualitas sound yang ada di dalam GWW ini juga agak kurang yahud,, Kadang penyampaian informasi, materi dan MC, moderator or pembicara agak bias aja.. banyak noise nya.

I dont know, long time i didnt write anything in this blog. I feel so empty. No inspiration. Biasalah dika, kalo lagi jalan isi kepalanya penuuhh dengan segudang cerita inspiratif emosional dengan aliran “lebay nisme” hahahha

Hingga tulisan ini dibuat, di stage masih asyik berbincang-bincang ria, sedang seluruh peserta sudah terlanjur terpaku menghadap laptop nya masing-masing…

huhuhu udah gak sabar… Apa siy rasa nya being a part of national record breaker…
mudah-mudahan sama seperti yang gua rasakan ketika ikut serta dalam “Guiness Book of World Record”, Tug of War di Naha Matsuri a.k.a Tsunahiki.. just waiting. :)

ditulis pada sesi kedua IBD 2009, gww

semoga damai tersebar atas bumi

semoga damai tersebar atas bumi

Entah kenapa, kalo lihat foto ini gau selalu bergetar.
Ceitanya gini, gua sudah memutuskan akan Menginjakkan kaki di Puncak tertinggi di negeri ini 3776 mdpl.. Gunung fuji,.

“Dika lu liburan musim panas ini ke mana?” tanya Cassie
“Gua akan naek Gunung Fuji Cass..!!” sahutku
“Serius lo?!”
“Iya!!”
“Dengan siapa?” tanya dia lagi
“Sendiri!!”
“yah, paling dengan temen gua di Tokyo, si Syafril”, tambahku

“Lu kemana Cass?” kataku balik tanya
“Gua mau keliling Jepang.” jawab Cassie
“Udah ikut gua aja, kita menginjakkan kaki di puncak tertinggi negeri ini, puincak para dewa”

“Cassy, coba yah lu pikir kita di sini cuma setahun, lu S2 mau ke europe. Kapan lagi Cass, menorehkan sejarah dalam hidup kita. Mengibarkan sang saka di puncak tertinggi negeri ini”
“Fuji cass,, fuji!!”

Sejenak dia berpikir…
“Ehmm, apa aja yang perlu dipersiapin?”
“Baju dingin, and sepatu!” jawabku
“Itu aja?!”
“Iya…”

“Oke gua ikut…..” jawab cassy.. yeeeeey

Nah jadilah akhirnya gua ada partner,… Coba gak ada cassy… siapa yang ngambil gambar ini…

hahahahha

************************************************************
Mt. Fuji 3776 mdpl, may peace prevail on earth

Bendera sang saka sudah dikibarkan, semua sembah sujud telah kepersembahkan kepada Rabb yang Maha Agung.
Di hadapan semesta, dan seluruh penghujung langit, terlihat diri ini hanya secuil diri yang kotor dan angkuh…
Ya Rabb,, maavin aku yah.. ampunin segala salah kami
Berikanlah petunjuk kepada kami, meraih puncak tertinggi di hadapan-Mu

Di hadapan-Mu, Tanpa Hijab!!

Aku menyerah, dan aku sadar semua telah berubah. Teman-teman telah jauh meninggalkan aku. Ada yang sudah lulus, beraktivitas-berprofesi, bekerja, sekolah lagi, dan yang terpenting dari mereka telah banyak yang sudah menorehkan tinta-tinta emas dalam peradaban manusia, baik yang terlihat maupun dalam alam metafisik,. Aku yakin Malaikatpun kagum dan mendoakan orang-orang yang secara totalitas berjuang demi sebuah kebaikan.. Yap! Meskipun hanya sebuah saja.

Aku menerima dengan sadar kondisi ku sekarang, Mahasiswa Tingkat Akhir sekali dengan status SP1 (Surat Peringatan #1). Oke, belum seminar, penelitian belum selesai,, sedikit lagi, ibadah ku mulai tidak inklusiv, tutur kata yang kadang tidak terjaga, pandangan yang terlalu liar, fantasy yang kelewat batas. dan segala macam tentang hitam-putih -nya Dika. Aku terima, dan aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa.

Kalaupun ini sebuah kegagalan hidup bagiku, aku pasrah dengan kegagalan ini. Lebih baik aku gagal dan bangkit lagi daripada orang-orang yang tidak melakukan apa-apa karena begitu takutnya membayangkan kegagalan. Tapi di sekitarku sudah tidak ada lagi mereka yang seperti itu. Mereka semua sibuk mengemis cinta pada Tuhan-Ku, bekerja keras untuk hidup dan menghidupi, mengembangkan diri menjadi orang yang tidak cukup baik saja melainkan mempersiapkan diri menjadi orang-orang besar…

Aku ketinggalan langkah. Sial..!! Ya, aku terima. Kita lihat saja siapa yang tersenyum di akhir…

Allahumma bariklana fi rajaba, wa syabana, wa balighna Ramadhan … Ya Rabb, miss u.. muuaaachh!!

hahaha.. udah lama gak buka page ini.. ehh ternyata tulisan terakhir gue tentang STA alias sindrom tingkat akhir. Udahlah,, gak mau terbebani banget dengan STA. yang jelas hari ini gua beres “menyudahi” satu UAS “ujian agak serius”. masih ada hari selasa, ujian tulis dan ujian praktikum; rabu, ujian praktikum dua mata kuliah; kamis, my last exam day.. then??!! selesai deh. Alhamdulillah segala puji bagi Tuhan.
What next? yang jelas masih ada tanggung jawab terakhir untuk MEREBUT KEMBALI TAHTA MAHASISWA… Skirpsi!!

Di saat entire of my friend have finished already,., gue sebagai laskar2 terakhir yang dapet excuse karena satu tahun cuti.. (pdahal kagak boleh juga yee??? Rabb, piss semua berjalan atas kehendak-MU) gak boleh ngiri dengan yang udah lulus duluaan yaah.. hehehe

Bismillah, kawan2 sekalian, blogger sejagat, dan semesta, cita2 tertinggiku di dunia tahun ini adalah menuntaskan sarjana untuk persembahan terbaik kedua orang tuaku. Kan kubanggakan mereka,, tunggu aku GWW.. muaaacchh.. Pak dekan,, sabar yahh untuk geser toga gue… PW??!! siapa kah yang beruntung ituu,,, apakah A? apakah B? Apakah C? Apakah D? Apakah E?? Buuuuuaaanyyyak amaatt dika.. heheheh

rileks lah bos.. c’mon.. ayooo melompat lebih tinggii….

dika

Akhirnya aku dapat jawaban yang lebih rasional dan powerfull mengapa para pendaki serasa menemukan jiwa yang sesungguhnya di puncak gunung??

Seharian penuh, aku uring-uringan menghadapi laporan-laporanku yang belum selesai. Dan memang tak akan pernah selesai ketika hanya menggerutu dan mengeluh. Semalam sudah aku tekadkan menyelesaikannya dalam malam itu. Namun pikiranku serasa full and stag. I dont know. Aku terlalu berpikir kompleks buat laporan yang menurutku, bagi mahasiswa tingkat 3 adalah sederhana. Mereka menerima apa adanya, mengerjakan, dan menyelesaikannya. Tapi menurutku tetap seadanya. Hatiku selalu melawan dan melakukan perlawanan.

“Ini yahh.. laporan ini menurut gue gak sesuai dengan tujuan apa yang ingin dicapai”

“Tujuannya adalah agar mahasiswa mengetahui cara menganalisis rumput laut kering”

“Catet: mengetahui cara MENGANALISIS…!!!” “Artinya tujuan ini bersifat praksis, dan kalau mau tahu parameternya laporannya gak gini, buat aja praktikumnya semua mahasiswa melakukan pengujian dan buat kesimpulan akhir, itu mutu rumput laut kering bagaiamana,.. pake kuesioner yang isinya: APAKAH ANDA sudah MEMAHAMI CARA UNTUK MENGANALISIS MUTU RUMPUT LAUT KERING?? Terus ada ujian praktikum lagi”

“Gak tau yahh,,, gue feel ini agak kurang sesuai aja… TINPUS nya diusahakan lengkaplahh, da info ini lahh,, ituu lahh yang sebenernya gak kepake…. untuk menjadi sebuah referensi pembahasan..”

“Di tingkat akhir kaya gini, gue ngerasa sistem pendidikan kita ini kaya tembok tinggi yang besar dengan kurikulum bertumpuk, yang peserta didiknya terkungkung, Gak tahu mau menjadi apa…”

“Kita lihat aja nanti,, ketika lingkungan luar kampus sudah mulai terlihat, berapa banyak ilmu yang bisa diaplikasikan”

Gua rehaat aahh.,.. capek!

***

Dalam-dalam aku berpikir, menikmati sajian waktu Dhuha yang luar biasa indah. This is perfect.

“Rabb, aku yakin cobaan yang engkau berikan tidak akan melebihi kapasitas yang aku miliki”

“Rabb, yang Maha Adil, Yang Maha Kasih dan Sayang, aku yakin betul dengan kekuasaanmu,,, Rabb..”

“Berikanlah aku kesempatan untuk belajar dari semesta, dan jika aku menjadi guru, jadikanlah aku guru sekolah alam semesta”

***

Aku ingat,, ketika dulu menyelam di Okinawa

“BaaaAANg, apa sebenarnya kenikmatan seorang penyelam??”, teriakku sembari water trappen kepada rekanku.

“ehhmmm apaa yahhh??? ketikaaa diaaa bissaaaa melihaaatt duniaaa yangg oraangg laaeen gaaak bisaaa lihaat”.. jawabnya sambil mengatur nafas.

Terus apa donk, kenikmatan bagi seorang pendaki gunung??

Ketika menjejakkan kaki di puncak gunung, itulah kenikmatan bagi semua pendaki gunung. Persoalannya bukanlah terletak pada puncak gunungnya. Pemandangannya pun biasa saja, tetapi mencapai puncak sebuah gunung, dan memandangi seluruh semesta setelah keluar masuk hutan, menapaki dinding-dinding cadas, bercanda dengan dahaga, bermandi debu, berpapasan dengan tepi jurang dan pusara, maka di sanalah terdapat sebuah kenikmatan “kemenangan”. Kemenangan sebuah proses.

Puncak mahameru dapat dilihat di youtube, di search di google. atau dibaca di novel 5 cm. atau pergi dengan helikopter dan menjejakkan kaki di puncaknya.. Tetapi PERASAAN SEBUAH KEMENANGAN…. Kenikmatan sebuah akhir perjuangan akan berbeda rasanya Tanpa “PROSES PENDAKIAN”..

hupffhh..

Akhirnya, aku membuktikan kalau janji Allah benar.

Take Action Miracle Happen, No Action Nothing Happen

Tidak percuma duduk seharian di depan laptop. 1 laporan fully completed, 2 laporan tinggal haspem. malam ini kerjakan 2 laporan lagi dan finishing yang dua…

Siap2 buat UTS/.. MEstaAKuuNG!!..

bismillah

dika

ngeliat judul nya aja, boleh dong setiap orang punya interpretasi yang beragam. Yah, paling tidak bagi orang-orang yang pernah mengenyam bangku kuliahan pasti pernah ngerasain yang namanya tingkat akhir.. terus apa hubungannya dengan sindrom?? Gejala penyakit apaan tuhh…

Tapi gua gak taulah,, gua sih ngeliatnya ada gelagat yang beda aja dari anak-anak yang sudah masuk tingkat akhir especially kayak gua yang saat ini sudah memasuki tahun ke lima. Ada yang malessssnya nauzubillah,, ada yang kadang suka jerit-jerit di kamar sendirian, ada yang maunya maen PS sehariann,, ada juga yang diisi dengan hal positif, bisnis contohnya yaa..

Dan tahun ini merupakan tahun terakhir gua ( i hope,, huhuhu ) setelah mendapatkan surat peringatan untuk segera hengkang dari kampus,, atau,,, “dipulangkan” huuuu tidak yah. Terlihat sepele siy, sekedar ambil mata kuliah yang belum, ikut praktikum, kerjain laporan, buat proposal, penelitian ngedraft, lulus, cari kerja, nikah, berumah tangga, dst.

Tapi gak sesederhana itu juga sihh,, Tapi gue yakin masalah dan cobaan besar diperuntukkan bagi orang-orang besar. Kalo lagi kerasa berat berarti sedang nanjak, kalo berat banget mungkin tanjakan yang akan dicapai pun curam. Dan kalo berhasil tentunya jadi lebih tinggi.

Ya udah daripada mengawang-awang hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima dulu. Dan gua menerima sedang terjangkit yang namanya STA. sudah. so whats next??
Hari-hari ke depan menjelang kelulusan yang belum kelihatan akan menjadi perjalanan dan momen-momen bersejarah yang luar biasa… ahahhaha…

Terima, tersenyum, jalani dan bersyukur..
Kebahagiaan adalah milik orang-orang yang bersyukur.

Kalau STA adalah sebuah penyakit maka aku bersyukur atas sakitku ini. Karena orang-orang sakit diberi kesempatan bercerita kepada Rabb nya tanpa hijab… hahahha

Menimati keterasingan

“Sesungguhnya agama ini dulu asing dan akan kembali asing” -dan berbahagialah orang-orang asing-

Sejenak merenung ternyata benar, di tengah keramaian kadang aku menikmati keterasinganku.

Peduli salah atau benar tentang persepsi mereka tentang aku, sebab semuanya pun tidak perlu dinilai dengan kontradiksi biner benar dan salah.

Menikmati perasaan keterasingan di tengah kejumutan agitasi masa yang memang bukan fitrahnya lagi

Haus inspirasi, miskin motivasi dan enggan bercita-cita

Mudah-mudahan pencerahan kan segera hadir

Menyelinap dalam seluruh ruang kalbu

di tengah diriku menikmati keterasingan berdua dengan Rabb-ku

berdua saja, tanpa hijab!

dika saputra

Bismillahirrahmanirrahiimi

Fhuuuhhh!!,,,, sudah lama sekali rasanya ruangan maya ini kutinggalkan, sejak kepulangan dari Jepang: Negeri yang Mulai Kumengerti, sejak akses internet tidak se-spektakuler dahulu, sejak tanggung jawab kembali dipikulkan di pundak ini, dan sejak impian kami di negeri Indonesia dengan segala rupa-rupa, problematika dan romantisme nya, kutulis juga lembaran-lembaran kisah barunya “Ksatria11″.. cie-cie!!

Biarlah yang satu tahun lalu itu, ibarat hadiah yang Allah telah berikan. Tidak pernah terbayang sebelumnya seorang anak penjual es lilin bisa berkunjung ke negeri sakura dan menginjakkan kakinya, mengibarkan bendera sang saka merah putih di puncak tertinggi Gunung Fuji (Puncak Semayam para Kaisar). Thanks ya Allah. Tinggal sekarang bagaimana mengamalkan ilmu yang sudah didapat di sana, serta memotivasi rekan-rekan sekalian untuk tampil dan tumbuh lebih baik lagi.

Awalnya, saya sungguh minder kembali ke tanah air. Mungkin sebagian orang melihat “wah”, namun ada perasaan khawatir serta perasaan “tertinggal”. Melihat rekan-rekan masih “militan” seperti dahulu, berjuang untuk terus mandiri dan bermanfaat, berlomba-lomba untuk terus berprestasi di mata Allah, dan tampil menjadi juara. Perasaan iri terhadap rekan-rekan yang masih terus semangat meramaikan forum-forum ilmiah, rapat-rapat organisasi kemahasiswaan, diskusi-diskusi masalah kerakyatan dan kebangsaan, menyelesaikan amanah orang tua (sarjana) dan berprofesi; lambat laun pertanyaaan BESAAArrr terus menganggu isi kepala saya..

SIAPA KAMU?

BUAT APA KAMU ADA?

APA YANG SUDAH KAMU BERIKAN KEPADA UMAT?

MENGAPA KITA HARUS KAYA DAN BERCITA-CITA?

BAGAIMANA LANGKAH YANG HARUS DICAPAI?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus saya coba untuk divisualisasikan, dicoba untuk dijawab dengan hati nurani yang bersih.

Sudah saatnya kembali belajar dan mempersiapkan diri menajdi seorang pribadi soleh, mandiri, cerdas dan juga memliki rencan hidup yang jelas. (Life by design)

Yang berlalu biarlah menjadi koleksi referensi hidup. Sekarang waktunya menatap masa depan, membuktikan kompetensi, dan juga membuat mimpi menjadi nyata.

Saya yakin dengan kekuatan mimpi, “Allah itu sesuai persangkaan hambanya”, Dia yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Berkehendak, dan ketika Dia ingin menjadikan sesuatu hanya berkata “Kun (Jadilah)”, Maka “fayakun (terjadilah”. Tidak ada kata yang tidak mungkin bagi Allah bagi orang-orang yang dikehendakinya. Dan juga saya yakin kalau “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri”

Ketika impian-impian kita (saya dan Anda), memiliki kebaikan bagi orang lain, masyarakat dan bangsa saya yakin Allah pasti akan menyelesaikannya.

Masih ada harapan dan impian saya terhadap negeri ini. Untuk itu kepedulian kita harus terus diasah. Masih banyak orang miskin di Indonesia ini, untuk itu kita harus KAYA agar dapat membantu mereka dengan Ide-ide cemerlang kita (misal: melalui pemberdayaan) dan dapat mewujudkannya tanpa masalah ruang, waktu dan dana.

Tiga bulan beradaptasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dari Jepang (sumpe deh jauuuh berbeddaa banget), tentunya kadang membuat hati nurani terus diasah akan kenyataan yang ada. Tapi di sinilah seharusnya kita tumbuh dan berkembang menjadi orang besar. tumbuh dari masalah.

Beragam masalah inilah yang harus kuhadapi dengan penuh tanggung jawab. Tidak ADA kata GAGAL yang ada hanya BERHASIL atau BELAJAR.

Alhamdulillah, Allah telah memperkenankan saya untuk:

Memulai penelitian untuk tugas akhir, mudah-mudahan SUDAH selesai Maret 2009

“Ayo jangan pernah mengeluh lagi”

Sebelum Cita Dijelang, Sebelum Sampai di Pantai Cita

Haram Surut Mundurpun Pantang

La Takhaf wala Tahzan, Innallaha Ma’ana

Ada satu hal yang sangat menarik bagi saya, yaitu konsep segitiga “TAKDIR”, “IKHTIAR”, dan “TAWAKAL”

Allah dengan sengaja meng-hidden- menyembunyikan TAKDIR, namun kita HARUS Percaya terhadap hal yang sifatnya ghaib (Salah satu ciri orang beriman), dan juga Qada-Qadhir datangnya dari Allah. Nah, maksudnya adalah, kita dituntut oleh Allah untuk berIKHTIAR dilanjutkan dengan BerTAWAKKAL (menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan ikhlas).

Misalnya Allah membuka tabir TAKDIR “kita adalah orang kaya”, mungkin kita akan malas berusaha karena kita berpikir “takdir kita orang kaya”. Atau

Allah membuka tabir TAKDIR “kita adalah orang miskin”, maka segenap usaha, berpeluh keringat akan terasa sia-sia. Tidak akan pernah ada kata HARAPAN dan “HOPE” di dunia ini.

Setelah itu, Allah mengajarkan kita untuk TAWAKAL.

Ada sebuah doa yang diajarkan oleh ayah saya:

“Ya Allah jika perkara ini membawa kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhiratku maka perkenanlah bagi kami, tetapi jika perkara ini membawa keburukan bagi kehidupan dunia dan akhiratku, maka jauhkanlah atau tunda”

Kita berawal dari tiada dan akan kembali ke tiada. Tidak akan ada kata rugi bagi orang-orang bertawakal dan bagi orang-orang yang oleh Allah ditunjukkan sebaik-baik jalan.

Nah, ditambah lagi di dalam al-Quran Allah mengatakan:

“Apabila telah selesai perkara yang satu maka kerjakanlah perkara yang lainnya…”

SUBHANALLAH,,

yang ada hanya kata TAWAKAL-IKHTIAR, TAWAKAL-IKHTIAR, TAWAKAL-IKHTIAR

yang ada hanya ADA Kata SUKSES atau BELAJAR. Insya Allah.

Saya Yakin, ANDA dan SAYA bisa MERAIH Mimpi-Mimpi Kita..

Never Give up

dika

"Aku melihat di atas awan"

"Aku melihat di atas awan"

Visiting Japan was always my dream. After senior high school’s graduation ceremony, I told my friend that someday I would go to Japan for any reason such as study, vacation or participate in a competition (to win a prize). Presently I am fourth year bachelor degree student at Bogor Agricultural University. I was always looking for an opportunity to go to Japan. I saw that my dream can become a reality. I was surfing the net. Bingo!! I saw the advertisement for a writing contest conducted by “Japan Airlines (JAL)”. It offered a fantastic prize, the trip to Japan for 22 days. Wow, Could it be. But sadly, the contest must be written in Japanese letters. I was sad but didn’t give up. One day, my friend gave me a flier which contained information about exchange students to The University of The Ryukyus, Okinawa Japan. I decided to join that program, and my journey begun.

October 1st, I arrived at Okinawa after came an overnight stop over at Taiwan. Nice-blue skies; beautiful cities; kind people was the impression I had of Okinawa. I was so surprised when I saw my room in “Senbaru Dormitory” B412. Oh my god! My floor was so dirty and unregulated well. A lot of ‘manga’ all over the floor, CD-Games were scattered in the living room. I felt so bad at that time. But, my Japanese friends extended a warm welcome to me. They were very enthusiastic talked with me. Maybe, I could learn Japanese language from them, I thought. At that time I forgot the situation of the dormitory and thought that I am here is learn and I can cope with this. To my surprise my bad memories of the dormitory was shout lived as I was moved to another dormitory building which was more clean and comfortable. My floor mates friendly, irrespective of their shy behavior

When I came to Okinawa, it was the holy month of Ramadhan, as a Muslim student I must fast during the day. No family, no friend(s), cooking by myself, fasting during the day, adapting with new circumstances, learning Japanese as soon as possible were my most difficult times. Gradually, I could enjoy life in Okinawa. Learning Japanese language, practicing my research with the microalgal topic under the guidance of Prof. Dr. Shoichiro Suda, making a lot of friends and joining international student football club made me a much happier person.

I got an opportunity to visit mainland Japan (Kyoto, Nara, Siga, and Osaka) through the international student trip program. Actually, the trip was conducted for the final year graduate students. Because the seats were still available, they gave chance to the exchange student to join that program through lottery. As an exchange student, I registered, and I was selected. Should call myself lucky or; what do you think? With meager five thousand yen, we could go to mainland for three days and two nights including airfare, transportation, and accommodation. How lucky am I!!

International Student Japanese Language Speech Contest

International Student Japanese Language Speech Contest

Having learned Japanese language for about four months, I participated at “Ryukus University International Student Speech Contest 2008”. I took part at the basic level. I talked about my great experience during the trip to mainland. At that time, I told about my first experience seeing the snow and entering the onsen. The audiences were cracking up while listening to my speech. Fortunately, I was a prize winner along seven other students.

My journey hasn’t finished yet. I don’t want my time here wasted. I want to learn everything that I can, and improve myself but I know time is running out. Practicing research, taking Okinawa history class, playing football, snorkeling, and I join to “The Ryukyus University Taekwondo Club”. It was tiring but I was enjoying. I learn and enjoy at the same time. Besides that, I took up diving lessons here in Okinawa under “Japanese Underwater Diving Federation (JUDF)” certification. I dived at a few diving spots in Okinawa such as Cape Maeda, Sunabe and Odo Beach. Now, I am proudly said I got my diving license in Okinawa, Japan. Okinawa is known for its beautiful underwater scenery that explains the reason why so many tourists come visit Okinawa especially during the summer time. By diving, I prove it is true. I like hiking and mountain climbing so I decided before I go back to my country I would hike up to mountain Fuji, the highest mountain in Japan. Finally, I could set foot on the highest peak in Japan (3776 m from the sea level). Amazing!!

I shall leave Okinawa, Japan with loads of memories that I shall cherish life long. I am grateful to JASSO who support my finances during my exchange program (STRP), The University of The Ryukyus, all of my teachers especially Prof. Dr. Shoichiro Suda who taking care and teaching me many things, Okinawa for its exotic culture and thousand experiences, and all of my friends who made my stay a memorable one. See you next time on another part of the earth. I will miss you guys, Peace!

“May Peace Prevail on Earth” (Mt. Fuji 3776m)

合格

合格!! (Goukaku)

Review terakhir selama tiga puluh menit dalam kolom air kurang lebih lima meter itu berakhir dengan kata “合格” yang dibaca “Goukaku”

Awalnya aku tidak paham sama sekali. Mulai dari: mask clearing, regulator finding, emergency rescue, regulator changing, hingga melepas seluruh scuba set dan memakainya kembali. Instruktur selamku, yang biasa kami sapa ‘Fukuzato-San’ pun menuliskan kata “OK” dan meminta kami mengulangi bagian terakhir latihan itu.

“GOUKAKU”, tulisnya.

yang artinya “LULUS”.

Latihan ke sepuluh itu menjadi bagian awal kami menyelesaikan sertifikasi selam “Japanese Underwater Diving Federation (JUDF)”

Masih ada jalan panjang membentang. Masih banyak laut yang harus diselami sama seperti puncak-puncak gunung yang mesti diambil pembelajarannya.

Selama laut masih biru, maka tanggung jawab besar memeliharanya agar tetap biru.

(dedicated to my father who always support me do every positif things)

dika

Tulisan Sebelumnya »