Feed on
Tulisan
Komentar

Ryugakusei Matsuri

Fiuh,, akhirnya beres juga acara Ryugakusei Matsuri alias Internatinal Student Festival yang diselenggarakan oleh University of The Ryukyus, Okinawa. Acara ini memang acara tahunan sih, konsepnya gak banyak beda dari tahun-tahun sebelumnya yaitu, bazar makanan, display ke-negaraan, group performance dan sejuta kesan tentunya (hahhaha).

Kita temen-temen Indonesia memenuhi tenda dengan hiasan tulisan インドネシア yang dibaca INDONESIA itu dengan baju barunya yang bertuliskan, Indonesian Student Association, Okinawa Japan. Cukup memancing perhatian juga dengan baju itu, putih-putih, tulisan hitam sedikit corak warna merah, dimana bendera Jepang dan Indonesia disilangkan yang keduanya memiliki warna merah dan putih saja. (Huuhuhuhu, namanya baju baru).

Lumayan seru juga acaranya, ada penampilan dari “Coco Band” yang masih temen kita juga. Kemaren malem aja, nama itu jadi bahan lawakan nya anak-anak, sebab “COCO” itu sebenernya nama convenient store deket apartemen kita. Membawakan sebuah Lagu Argentina, Carlos Enrique sebagai vokalis, Lagu PNG, tilford the black guy, dan … i missing u like sunday morning,,yang dikumadangkan oleh rekan kita Aji, mahasiswa master asal Indonesia dengan suara serak2 basahnya itu… Aplaus pun membahana.

Panas nya summer Okinawa semakit HOTttttt ketika Ana Cs, menampilkan tarian Arab,,,, busyet,,,, kontan aja,, kawan-kawan Indonesia-Malaysia njerit-njerit

“Woyy,,,pulang mandi–pulang mandi,,,,,”

yang yang ngerti sih ngakak aja abis-abisan,,,

yah kebayang aja tari Arab di summer yang “HOT”, dilengkapi lagi kawan-kawan Latino,,, hwhahahha,,,

yah kita sih ngepulin dapur dengan Nasi Goreng INDONESIA,, the most wanted FOOD of the day.

gua ngebayangin kalo saat itu gua adalah seorang nasi uduk yang udah dipajang duluan,,

“Kenapa sih setiap orang dateng nanyain,, dia si nasi goreng. Gua juga lebih sedap”

Itulah fenomena yang terjadi. NASI GORENG alias Fried Rice atau kita terjemahin Indonesia no Chahan, semua pengunjung yang mungkin pernah berkunjung ke Indonesia atau pernah sesekali mencicipi makanan Indonesia langsung nyeletuk aja ketika mampir ke stand INDONESIA

“Ada nasi goreng gak,,??”

alhamdulillah semuanya hari  ini SOLD OUT.

Soto Ayam, Nasi Uduk, Ote-oTe, Nasi Goreng, Sampincha dan Lemon Tea.

hahhahah,, thanks ya Ibu-ibu,,,, saya belajar banyak hari ini…

saya belajar apa itu rasa, apa itu cita-cita dan apa itu menjiwai peran. Makasih semua kepada semua CUSTOMER saya, semakin banyak saya berjumpa Anda, semakin banyak saya tahu bagaimana cara Menjual……

anyway,, tenkyu deh buat semua. Buat Bunda,,,, juga.

“Eh Bunda,, kalo ada acara, dika pasti kebagian jatah masak nasi uduk dech.. sekarang udah dapet resep nasi goreng loh,….”

banyak dech semua perasaannya,, tapi yang terpenting

I learnt Much,, hahahha Thanks God..

 

dika

(Ryugakusei Matsuri, 0:18, July 5th 2008 )

ternyata beban dan peran kita gak cuma satu men,,, BANYAK… yah pinter-pinter aja manage nya

tentang nama itu

“boleh tanya sesuatu…”

“ya boleh aja, apa sih yang nggak untuk kamu?”

Niat awalnya, adalah menulis kembali pembicaraan kami. Itu niat awalnya. Yang menurut saya, masa lalu saya itu “the most romantic story”, bisa dikenang kembali. Namun, sekelebat pikiran itu datang.

“Ah, biarlah menjadi rahasia saya, dia dan Tuhan”

Sky, Sun, and Sea

Setidaknya ketiga elemen di atas masuk ke dalam satu alasan mengapa orang-orang mengunjungi Okinawa. Ketika kelas pendahuluan “Sejarah dan Kebudayaan Okinawa”, guru saya mengharapkan umpan balik dari siswanya.

“How do people visit Okinawa?”

“Blue Sky, Nice Sea and Sun!”, jawab saya.

“Exactly”, kata Sang Guru

Itu salah satu alasan mengapa orang-orang baik penduduk dari kepulauan utama maupun penjuru dunia mengunjungi Okinawa. Sebagian dari mereka ingin mengunjungi daerah asal nenek moyang mereka, orang Hawai contohnya, dan sebagian yang lain mengharapkan ketiga hal tersebut: Blue Sky, Nice Sea and Sun.

Meskipun terletak di daerah sub tropis, secara klimatik, Okinawa masih mendapatkan cahaya dan kehangatan matahari lebih banyak dibandingkan kepulauan utama Jepang. Selain itu pula, Okinawa merupakan gugus kepulauan yaitu kepulauan Ryukyu tidak heran “most favourite spot” di Okinawa adalah wisata laut.

Ditambah lagi Okinawa memiliki budaya, bahasa dan adat kebiasaan yang mungkin tidak ditemui di kepulauan utama Jepang. Orang-orang Okinawa menyebut diri mereka “Uchinancu” dan menamai bahasa Okinawa “Uchinaguchi”. Kadang-kadang orang dari luar Okinawa tidak mengetahui apa yang orang Okinawa katakan ketika mereka menggunakan bahasa daerah mereka.

Satu yang saya ingat dari bahasa Okinawa adalah ucapan “selamat siang” yang dalam bahasa Jepang standar adalah “konnichiwa”, di Okinawa terkadang kita mendengar “Haisai” yang artinya juga selamat siang. Untuk alasan budaya ini, orang-orang dari kepulauan utama Jepang menganggap Okinawa sebagai “luar negri” nya Jepang. Saya memberi istilah EKSOTISME BUDAYA. Dan memang lebih lanjut saya bisa bilang, Okinawa adalah tempat paling eksotis se-Jepang, dan Kyoto adalah daerah paling “Jepang” se-Jepang atau bahasa anak mudanya “Jepang Banget dech”


Nah, sebenarnya tulisan ini saya dedikasikan kepada rekan saya yang “terkesima” ketika saya bercerita kepada beliau tentang pengalaman saya minggu lalu.

Secara pribadi saya jatuh cinta pada Langit Biru nya Okinawa ketika pukul 9 atau 10 pagi. Istilahnya “Mentari Okinawa di waktu Dhuha”. Subhanallah sekali pemirsa. Kalau saya boleh memberi nama pada suasana kala itu, langit itu langit orang-orang yang optimis dan orang ikhlas. Bukan hanya malu yang saya dapat ketika langit birunya itu menatap saya lebih dulu sebelum mata saya menatapnya di pagi hari, tapi juga penyesalan luar biasa.

“Mengapa tidak lebih pagi saya memulai aktivitas hari ini”, pikirku.

Itu langit birunya, lantas bagaimana dengan Laut biru nya yang saya kesankan begitu ‘wah’ nya. Minggu lalu saya mencoba bermuamallah secara naturaliah. Mencoba berinteraksi dengan alam. Dengan Laut. Kami berempat, saya, dan ketiga teman saya, Aji, Chihiro dan Aizad, mereka orang Indonesia, Jepang dan Malaysia berturut-turut. Kami menuju ke Cape Maeda (Maeda Misaki), sebuah “famous spot” untuk diving dan snorkeling.

Setelah menjelajah lebih kurang 45 menit tibalah kami ke lokasi tujuan, menyusuri perkebunan tebu yang masih mudah, dan menerobos sedikit jalan setapak, terhamparlah lautan luas membentang dengan garis horizonnya di tengah warna biru yang teduh. Warna pasirnya putih, menghampar bersih. Saat itu sedang surut. Sejauh 150 meter mata memandang, tumpukan “karang mati” dihempas ombak berwarna biru. Di sanalah pecahnya gelombang itu. Daerah dihempaskan ombak di tepian karang mati itu merupakan batas perairan dangkal dan perairan yang lebih dalam.

Ini kali keduanya saya turun snorkeling. Hari itu cukup dingin. Untungnya Aji berbaik hati meminjamkan “wetsuit” nya yang setebal 5mm itu. Selama hampir dua jam bersnorkling ria rasa dingin masih bisa ditahan. Memantau dunia bawah air yang luar biasa itu. Ikan-ikan seolah menatap tajam ke arah kami. Sembari meggerakkan “fin” di dalam air dan melepas snorkel saya mencoba menanyakan suatu hal kepada Aji, yang notabenenya adalah seorang diver (penyelam).

“Bang, bilamana seorang diver memperoleh kenikmatannya?”

Mengajukan pertanyaan ini, batinku seolah berada di puncak Jongrang Saloka, Mahameru yang memang sebagian pecinta Gunung akan mendapatkan kebahagiaan, melupakan seluruh penat, hilang semua rasa lelah ketika mereka mencapai puncaknya. Maklum saja Gunung tertinggi se-Pulau Jawa itu memberikan kenangan yang luar biasa kepada saya. LUAR BIASA!

“Ehmm apa ya?”, jawabnya.

“Ketika dia menikmati alam yang tidak bisa dinikmati orang lain”, tandasnya seperti itu.

Memang setelah kupikir laut dan gunung sama misteriusnya. Banyak orang mencari kebahagiaan di Gunung, tak sedikit yang rekreasi ke pantai. Banyak yang wafat di gunung, banyak juga yang hilang di laut. Kalau Musa AS menerima wahyu Allah di “Muqaddash Tua” Gunung Sinai, beliaupun menjadi saksi kebesaran Tuhan di depan laut merah ketika Firaun dibinasakan.

Kalau boleh saya berkata jujur, pemandangan bawah laut di Cape Maeda tidak seindah yang saya lihat ketika snorkeling pertama saya di Pulau Tidung.

“Bang kenapa coralnya gak banyak sich?”, tanya ku lagi sambil membersihkan maskerku.

“Apa karena ombak di sini lumayan besar?”, tambah ku.

“Gak juga sih, mungkin di sini terjadi sedimentasi, sehingga coral-coralnya mati.”

Ya, memang begitu adanya. Tapi laut biru itu tidak lantas hilang begitu saja dalam ingatanku.

Dan ketika perjalanan snorkeling saya pertama ke Pulau Tidung, kesan yang saya dapatkan sangat memilukan. Kami berangkat dari pelabuhan muara Angke, Jakarta. Keindahan bawah air Pulau tidung terlalu indah dibandingkan dengan perasaan ketika keberangkatan. Menggunakan perahu motor berkapasistas sedang, kami berangkat dari Muara Angke, Jakarta.

Baru saja duduk di dalam kapal itu, ingin rasanya meninggalkan pelabuhan ini. Aromanya tidak sedap, air lautnya hitam. Warnany hitam seperti genangan minyak dan limbah. Tentu saja aku penat melihatnya. Kapal mulai berjalan, angin laut mulai berhembus. Berkilo-kilo meter jauhnya kami berlayar di atas laut yang berwarna hitam tanpa buih. Berlayar di atas air laut yang tampak seperti minyak. Pekat. Hitam.

Itulah realita, tentu alam menggambarkan apa yang terjadi di masyarakatnya. Dia akan bercerita tentang apa saja yang telah diterimanya tentang apa yang telah disaksikannya. Air laut hitam itu menggambarkan warga Muara Angke yang penuh kegetiran hidup. Hitam. Bau. Ironis memang, mereka tinggal di tepi laut tapi tidak mendapatkan ikan. Wajar saja, sebab tingkat polusi dari pabrik-pabrik sekitarnya dan budaya sanitasi yang sangat buruk tergambar jelas di mataku dalam laut berwarna hitam itu. Pekat.

Hari semakin siang, mentari pun semakin tinggi. Langit biru, langit orang-orang optimis membahana meninggalkan langit Jakarta yang kelabu. Air laut pun berubah menjadi biru muda. Burung camar mulai nampak berterbangan, menandakan eksistensi ikan yang rumahnya kami singgahi siang ini.

Jauh semakin jauh, sekeliling hanya horizon tak bertepi, air semakin biru dan rasa gundah mulai hilang. Mataku mulai sampai ke pada awan putih lembut, dengan warna air laut yang mencerminkan ketulusan dan kesejahteraan. Pulau tujuan mulai terlihat. Dan matahari semakin anggun. Seperti langit biru, laut yang indah dan matahari yang kulihat di Okinawa.

“Ah, mungkin minggu depan kita pergi snorkeling lagi”, pikirku.

Lamunanku buyar.

(kenangan dalam sebuah tulisan)

dika

Dinner

Siapa yang tidak tahu maksud judul di atas. Tidak ada maksud lain, selain MAKAN MALAM. Hal ini yang aku biasa lakukan di sini dengan memasak sesuatu yang spesial. Ini bukan sembarang “dinner”. Makan malam yang aku maksud makan malam yang biasanya aku adakan setiap Selasa malam dan Sabtu malam, atau kadang-kadang Senin malam.

Tiga hari itu, makan malam ku berbeda. Hari Senin malam biasanya setelah latihan taekwondo, dan hari Selasa, Sabtu malam setelah pulang latihan sepakbola. Aku paling tidak tega memasak banyak dan makan sendirian. Batinku meringis.

“Dika serakah”, ujarnya.

Selain itu, karena aku orangnya memang dominantly extrovert, butuh interaksi dengan orang lain lebih banyak daripada menyendiri. Lebih banyak loh. Bukan, kontemplasi tidak butuh yah. (catet!!)

Nah, selain kalau makan sendiri merasa kesepian, mengundang teman makan malam bersama menjadi hal yang sudah “rutin” kulakukan. Kebanyakan saya mengundang teman saya dari Papua New Guinea, Tilford, masih satu ras dengan saudara kita di Papua, dan teman saya, Koutaro. Ia orang Jepang.

Teman saya yang pertama itu, bisa dibilang friendly person dan juga “gaya hidupnya” tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia. Orang yang banyak kesamaannya lebih mudah akur. Kalau yang kedua, bisa dibilang 65% orang Jepang, selebihnya International soul. Sedikit berbeda dengan  orang Jepang pada umumnya yang “agak” menutup diri, dan “terkesan” (menurut saya) eksklusif karena gaya bergaul atau berteman merekan yang “group inclusive”, beliau ini, si teman saya itu memiliki cara berpikir yang lebih terbuka (open minded). Beberapa kali kita DINNER dan membahas apa saja yang kita anggap menarik. Mulai dari masalah Amerika, Oil dan Gas, budaya masing-masing negara, lifestyle, cewek, ke-Jepang-an hingga kepercayaan. Si Tilford seorang kristian, kalau si Koutaro dalam masa pencarian.

Kalau “naluri lelaki” saya mengatakan atau bisa dibilang berharap merasakan atau menjalani dech “ROMANTIC DINNER” dengan seseorang yang saya undang. Seseorang yang seseorang ya maksudnya. Itu harapannya. Tapi saya ingat, teman baik adalah rezeki. Yah itu dia, dalam setiap sesi makan malam spesial saya mungkin bukan bersama orang “yang menurut saya” spesial tapi dengan “teman baik” yang saya bisa berekspresi apa saja, yang bisa memberikan pendapat apa saja. Yang bisa meminta pembenaran bahasa Inggris dan Bahasa Jepang saya, tanpa sungkan. Tidak dengan orang Jepang pada umumnya, yang masih saya harap-harapkan.

Hari ini, kami memasak dua jenis masakan cumi-cumi. Satu di semur kecap, satu lagi sup cumi bumbu lodeh. Nah loh. ditambah Mackerel Fried dan Apple Tea. Walaupun sedikit kami menikmati. Dan bagi saya, tidak perlu memasak berlebihan, cukup apa adanya. Saya menjadi orang merdeka. Dengan dua orang ini saya tidak harus tampil sempurna. Tidak perlu ada pura-pura.

dika

(okinawa: 13/Mei/200 8)

Apaan sih? gak ngerti dech!!

Keren nih,, hahahha.

kemaren malem saya mengalami “Unexplainable Feeling”. Selesai kelas bahasa Jepang, bergegas kembali ke Lab. Rencanannya sih, hari itu mau datang pagi menyelesaikan rencana-rencana “latihan riset”, sebab bisa dibilang bukan riset beneran. Tetapi fakta berkata lain. TEM (Transmission Electron Microscopy) Session, kita skip, baru keluar asrama hanya ketika kelas bahasa Jepang akan dimulai…..

Beres kelas bahasa, ke Lab hanya untuk mempersiapkan media baru kultivasi mikroalga (nah lo?!). Selesai dech magrhib-magrhib. Sholat ke 206 (international room), dan ke Lab lagi.

sebenernya dua paragraf di atas, gak gitu penting. sebab bukan bahasan kita kali ini. Tapi ya boleh juga untuk pendahuluan gitu,,,

wait-wait-wait.

cerita dimulai dari sini.

Ketika detik-detik menjelang pulang ke rumah, perasaan itu muncul lagi. “Unexplainable feeling”. Hari itu, saya ada latihan taekwondo sebenarnya. Sebenarnya loh. Tapi saya kirimkan “secarik” pesan pendek melalui handphone ke sempainya.

“Kyou ha renshuni ikemasen”

“Hari ini gak bisa pergi latihan”.

Apa hal? Iya, males!!

Tapi bukan males juga. Badan sehat banget. Pikiran ya, biasa-biasa aja.

Sibuk? Nggak juga sih.

Baru keluar kamar aja jam 2-an..

Tapi ya gitu dech. Akhirnya kulangkahkan juga kaki ke rumah.

Setibanya di rumah, aku sholat magrib. Yang di atas itu salah. Niatnya sholat di 206, tapi kuurungkan dengan bergegas pulang dan sholat di rumah.

Aku hidupkan komputerku, dan chating sama temenku… curhat-curhat dikit. Aku gak mau habis waktu percuma.

“Setiap racun pasti ada penawarnya”. Apa gerangan yang menimpaku malam itu.

Unexplainable Feeling.

Alhamdulillah, ide langsung datang. gak langsung juga sih sebenernya tapi melalui percakapan dengan temanku melalui handphone.

Tiba-tiba telepon ku berdering

“Dik, ada di mana?”

“Ryou” >> Asrama

“Mau ikan gak?”

“Mauuu”,, langsung kujawab.

“Ikan apa bang?”

“Ikan kakak tua, tau kan?”

“Gak tau, banyak gak?”

“Ya lumayanlah.”

“Oke dech, lu dimana sekarang?”

“Masih di Lab, nanti kalo udah nyampe gua miscall”

“Oke bang”

“Ke dapur ya”

Nah terus aku pikir gini. Walaupun pergi ke puncak gunung or tidur di tepi pantai yang indah or makan enak kalau suasana hatinya gak bener tetep aja gak ada bedanya.

Akhirnya kuundanglah 2 temanku untuk makan malam saat itu. Satu dari Papua New Guinea, satu temen Jepang.

Melalui percakapan ketika makan malam berlangsung, kudapatkan istilah baru dalam bahasa jepang.

Apakah itu?? Adalah GO-GATSU BYO (5-月 びょう), artinya penyakit bulan mei.

“is it common word?” saya tanya gitu..

terus saya tambahin

“I mean, Does japanese know about that word?”

“Yaa,, some of them maybe know that word!”

GoTchaaa..

hari ini kutanya ke tutorku hal itu

“Tomoko-San, Go-Gatsu Byo shitteimasuka?”

“Ehhmm,, hai..”

Terus aku tanya temenku lagi…

“Yoichi-San, Go gatsu byo wakaru?”

“Un, wakaru yo”

Yeee,,,,

Tapi apaan sich go-gatsu byo itu.

Istilah ini, saya mungkin bisa menerka lebih dari 65% orang Jepang mengenal ini. 5-Gatsu byo gramatically, artinya “May Illness” or “Penyakit Bulan Mei”. Mungkin orang-orang Jepang pernah mengalami hal ini. Apakah itu.

Menurut pengakuan mereka, 5-Gatsu Byou itu perasaan malas yang tidak beralasan. Intinya “pokoknya gua males aja”. Keadaannya bisa dilihat, banyak student yang tidak masuk kelas, or kinerja perusahaan menurun.

Dan masih menurut mereka, hal ini disebabkan MUNGKIN karena hampir keseluruhan tanggal administrasi (physically) di Jepang di mulai bulan April baik itu sekolah baru, kuliah baru, kantor baru, perusahaan baru. Mereka start beraktivitas di bulan April dan juga pada periode seperti ini cuaca sedang hangat dan indah-indahnya.

Nah yang pada kerja or masuk kuliah (sekolah baru) di bulan April membutuhkan waktu untuk adaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu harapan dan target baru juga sedang besar-besarnya. Namun di awal bulan Mei, mereka memiliki deretan libur panjang yang disebut Golden Week dan beberapa libur lainnya setelah Golden Week.

Nah kalo udah begini, banyak mahasiswa baru or pegawai baru mengalami Go-gatsu Byou.

Symptoms nya: kinerja menurun, malas tak beralasan,,, ya gitu dech,

dan karena ini merupakan hal umum di Jepang. Akrab di dengar oleh orang-orang Jepang. Temenku yang Jepang menyebutnya bagian dari Japanese Culture.

(Jadi harap maklum).

Aku?? Nggak koq. Sehat

bener!!

dika

[disclaimer: ini posting bebas, japanese trip story aja. Untuk bagi-bagi, siapa tahu bisa ketularan ketertarikannya mengunjungi tempat di Bumi Allah yang lainnya]

Seruuu juga,,, mengawali semester baru. Ternyata setelah melihat kurikulum yang akan diambil.. Fiuhhh…. Spring Vacation ku ternyata cukup bermakna. Kalo waktu liburan nih ye..

namanya liburan kan..

Yang jelas, Selasa sama Sabtu gak bisa diganggu gugat. MAEN BOLA

terus pernah ikut sebuah ORCHESTRA, jadi penampil gitu rame-rame dengan student jepang dan satu temen dari korea. Luar biasa,, [gak pernah kebayang, anak Bunda ngikut konser.. hahah]

sesekali maen ke Lab, ISOLASI dan KULTIVASI Microalga..

ALhamdulillah, Horeeeyy,, Amphidiniumku tumbuh.. Apaan tuh??

Klik di sini

Menjajal hoby baru, selain ORDERAN Memasak, yaitu Billiard.

Terus apa lagi yah?

Oh iya, jogging juga. Ngurusin badan?

Hah? DIka ngurusin badan.. kebayang gak loh!!

Yang paling indah di musim semi itu,, memandang langit jam 10 pagi.. INDAAAAAHHH Banget. Subhanallah sekali. SUmpe!!

Itu liburan, ni semester baru. Tutorku bilang,

“Science office asked you to take 10 classes a week”

“How many credits that I have to take?”

“It doesnt matter, you just need to take 10 classes.”

banyak juga. Ternyata Senseiku tahu, kata beliau ke tutorku (Pake bahasa Jepang nih yee)

“Udah si doi ngambilnya 7 aja.. Belum dia mau riset juga”

“Ehhhmm…”

yah, 7 kelas not bad kan.

3 kelas bahasa jepang non credit (ini buat latihan…) dengan tugas dan quiznya tiap minggu

1 kelas Okinawa History in context with tourism (keren banget nih kelas. kita bahas nanti yah)

1 Kelas Seminar 4th grade student

1 Kelas Advance Seminar (untuk “Master dan Doctor” nih.. hahaha.. padahal seminar Lab)

1 English Conversational

jadi semuanya:

7 kelas seminggu,

2 kali sepakbola,

Riset di Hari rabu,

2 hari Taekwondo (Senin dan Kamis)

2 kali presentasi di Advance Seminar

2 kali presentasi di Seminar Class

Siap menerima undangan dari temen Jepang di hari Rabu (Bowling, Ice Hockey, Fishing)

Free time di hari Selasa

Aktualisasi di malam hari

Dan Belajar Menulis di akhir Pekan

Dan pengembangan diri lainnya…

Oke-oke, itu cuma daftar doank. Gak perlu dibayangin sungguh-sungguh. Yang jelas kerasa di minggu pertama, badan berasa patah2 semua… hahha…

Nah tapi kesan yang paling menggoda di semester ke-dua ini, ketika daku menghadiri kelas Okinawan History. Senseinya orang Scotlandia maan.. Agak telat waktu itu sebab harus sholat dhuhur dulu. Presentasinya bagus banget. Cara memperkenalkan diri, membawa suasana kelas. Register kelasnya lumayan profesional

“If you want to take my class, please send me an email and I will send you syllabus and topic that you can read before you attend my next class”

Semua bahan bacaan akan didistribusikan via email. Terus semua bahannya di kumpulin dalam satu web, yang dia buat sendiri… keren banget dech.

Yang parahnya lagi, meskipun dia Sensei dari Scotland dia bisa baca Kanji gundul.. Mirip-mirip dengan kitab sampul kuning dengan arab gundul gituu.. Hwahaha.. Tapi untungnya memang kelas itu diperuntukkan untuk temen2 jepang yang mau bisa explain negaranya (esp. Okinawa) dalam bahasa Inggris mengenai sejarah dan budaya.

Pas Sesi Brain storming,, gaya dia memancing pendapat itu asyiik banget. semua pendapat yang masuk disanjung, dan diimprove ke new idea gitu.. terus dari semua ide yang masuk baru dibantai bareng-bareng hingga dapet jawaban atas Topik

“Why do people visit Okinawa?”

4 alasan yang menurut kami paling berpengaruh adalah:

1. Exotic Culture

2. Historical Sites

3. Okinawa War History

4. Diaspora Family/Ancestral Home-land

wait..wait..wait

sebenernya bukan semua itu yang ingin gua jelasin tapi yang terpenting kekaguman gua akan si Sensei dan kekaguman si Sensei pada Sensei2 yang dinilai dia lebih senior, sejarawan, penulis-penulis buku sejarah okinawa, jepang dan dunia.

Keluar dari ntu kelas,, ngerasa semakin kerdil gua. Ternyata bukan di zaman ini saja kita hidup. DI satu Bumi yang memiliki jutaan tempat bersejarah yang masihng-masing tempat sejarah itu berbeda zaman, berbeda peristiwa dan berbeda masyarakatnya. Fiuuuh.

Semakin beranjak tua nihh yee,, sejarah bangsa kita berubah-ubah mulu. Kata orang yang ini salah, yang ini bener, besoknya berubah lagi. tokoh2nya ada yang kontroversi itulah inilah. Pengen juga bisa dapet naskah

“Rekonstruksi Sejarah Indonesia Dulu hingga Kini”

Karena apa ya… Okinawa yang gedenya hampir sama kaya Bali mungkin. Pernah ada konflik dengan China, Amerika dan AKhirnya kembali ke Jepang,, yang katanya punya Exotic Culture,, yang katanya punya Diaspora Ancestral yang katanya punya sejarah pilu kolonialisme yang katanya punya Blue Sky, Sun and Sea. Gimana kalau Indonesia,, yang besarnya membentang dari Inggris hingga Mesir, menutupi Eropa hingga, Asia barat. Yang memiliki ribuan budaya endemik nan eksotik yang lautnya 2/3 luasnya. yang langit birunya…. (masih banyak yeee,,,)..

Sejarah pilunya?? 350 vs Belanda, 3 stgh vs Jepang, terus tsunami Aceh, Lumpur Lapindo.. Nenek moyangnya orang-orang madagaskar dan kakek buyut orang-orang Suriname. Fiuuuuhh

GImana ya ngebayangin jadi SEJARAWAN INDONESIA ??

Nambah banyak Pe-eR gua!! :D

dika

*photos:

1. Ryudai International Footbal vs JICA Participants (6-5), Urashoe Cty

2. Tarik Tambang Paling Gede Se-Dunia, pesertanya ribuan orang,

Okinawa Matsuri (taken from youtube.com)

(Guiness Book of World Record, -aku ikutan loh.. hahaha-)

Apa sih artinya sebuah nama?
Cuma nama doang koq…

Ih tapi kan nama itu sebuah doa loh.
Setelah nyari-nyari link di internet akhirnya kucoba juga.

Hasilnya?? .. yuuu!!


What Andika Tri Saputra Means


You are usually the best at everything … you strive for perfection.

You are confident, authoritative, and aggressive.

You have the classic “Type A” personality.

You are very intuitive and wise. You understand the world better than most people.

You also have a very active imagination. You often get carried away with your thoughts.

You are prone to a little paranoia and jealousy. You sometimes go overboard in interpreting signals.

You are balanced, orderly, and organized. You like your ducks in a row.

You are powerful and competent, especially in the workplace.

People can see you as stubborn and headstrong. You definitely have a dominant personality.

You tend to be pretty tightly wound. It’s easy to get you excited… which can be a good or bad thing.

You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don’t stick with any one thing for very long.

You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start.

You are a seeker of knowledge, and you have learned many things in your life.

You are also a keeper of knowledge - meaning you don’t spill secrets or spread gossip.

People sometimes think you’re snobby or aloof, but you’re just too deep in thought to pay attention to them.

You are a seeker. You often find yourself restless - and you have a lot of questions about life.

You tend to travel often, to fairly random locations. You’re most comfortable when you’re far away from home.

You are quite passionate and easily tempted. Your impulses sometimes get you into trouble.

You are wild, crazy, and a huge rebel. You’re always up to something.

You have a ton of energy, and most people can’t handle you. You’re very intense.

You definitely are a handful, and you’re likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.

You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.

You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.

You don’t always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don’t have as much going for them as you do.

You are influential and persuasive. You tend to have a lot of power over people.

Generally, you use your powers for good. You excel at solving other people’s problems.

Occasionally, you do get a little selfish and persuade people to do things that are only in your interest.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.

And because you’re so lucky, you don’t really have a lot of worries. You just hope for the best in life.

You’re sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.

mau coba? klik di sini

Fiiuuuh.. udah lama banget rasanya gak ngoprek-ngoprek ni blog… Anggep aja postingan kali ini sekedar informasi, intermezo or infotainment gituu.

Selain banyak banget kawan-kawan yang nanyain

“Dika, dika koq gak update lagi sih??” or..

“Kak Dika, mana lanjutannya…?”

sebenernya ada segudang isi kepala yang ingin gua tumpahin.

Tapi sejak awal sebenernya, niatnya sih

“Aku ingin banyak membaca dan belajar menulis”. Itu saja.

Untuk itu digunakannlah sarana WordPress. sebagai domain untuk aktualisasi diri juga.

Nah terus pemirsa, sayang banget kan tuh kalau tuh tulisan-tulisan gue itu gak ada arsipnya. Sebenernya selama off nulis gini, lagi ngeberesin dan edit ulang semua naskah biar bisa dibaca semua golongan. Gituu…

Kata orang sih dibuang sayang,,

Naskah cerita yang di blog ini, murni menggunakan gaya bahasa seorang dika yang polos.. hehehe.. :D

Untuk itulah, editing dalam file word yang kelak insya Allah akan menjadi naskah buku pribadi itulah yang sejenak menyita waktu dan pikiran,

Akibatnya ?? Blog ku terbengkalai..

Tapi tenang aja,, semuanya akan beres dalam detik ini, menjadi produktif karena aku

“Ingin banyak membaca dan belajar menulis”

Entah itu blogger atau story writer,,,,

salam

dika

Senin, 25 February 2008

Hari ini aku berhasil menamatkan novel ke-dua dalam catatan sejarah hidupku. Bukan menulisnya tapi membaca. Orang-orang besar memiliki kebiasaan membaca. Tapi apa iya, mereka juga suka membaca novel yang kadang tebal halamannya mencapai angka tiga ratusan bahkan lima ratusan. Novel pertama yang kubaca adalah karyanya Motinggo Busye “Biarkan Kasihmu Selalu Biru”. Aku lupa persisnya jalan ceritanya, tapi aku ingat ketika itu, aku bangga bisa menamatkan membaca novel yang memang tidak pernah ada dalam kegemaranku. Itupun karena tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskan membuat resensi karya sastra berupa novel. Dan hari ini, mungkin 4 tahun setelah hari itu aku menamatkan yang kedua. Entah mengapa aku lebih suka membaca cerita pendek dan puisi ketimbang novel.

Ketika membaca puisi ataupun cerpen aku menemukan fragmen kehidupan yang sangat beragam, penuh hikmah dan tetap indah. Aku pernah dipinjamkan antologi cerpen “Batu Merayu Rembulan” oleh abangku yang kedua. Membaca judulnya saja, aku sudah terangsang untuk membuka dan menyelaminya. Kutemukan kisah “Perempuan Yang Tak Beragama” yang ingin dipinang oleh seorang pria yang sangat mencintainya. Dialog di mereka sangat sengit,

“Aku ingin menikahimu”, kata sang lelaki

“Aku tidak bisa”, jawabnya

Sang perempuan menceritakan semua kekurangannya dan “ketidak mungkinannya” menikah dengan sang lelaki. Mulai dari fisiknya yang jelek, juga dirinya yang tak beragama namun sang lelaki tidak peduli dengan semuanya sebab dia sangat mencintainya. Hingga di akhir cerita dan dialog mereka sang perempuan berkata,

“Tetapi aku tiada”

Lelaki itupun terdiam.

Atau kisah cintanya Soe Hok Gie yang dituangkan nya dalam puisi “Mandalawangi-Pangrango”:

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Banyak hikmah, pelajaran dan inspirasi dari kedua bentuk sastra ini: cerpen dan puisi. Dan juga waktu yang dibutuhkan untuk menamatkannya hanya sekali duduk. Berbeda dengan novel yang bisa diselingi dengan tidur, berlibur hingga ujian akhir sidang skripsi. Tetapi mengapa untuk novel yang terakhir ini aku merasa penasaran untuk membacanya. Sangat penasaran. Bahkan, film nya akan di-release di tanah air akhir bulan ini. Novel karya Habiburrahman El-Shirazy akan difilmkan dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

“Memang kamu belum pernah baca ya?”, tanya kawanku ketika chating dengannya.

“Belum, memang bagus ya?”,tanya ku.

“Saya sih penasaran aja, temen sampe senyum-senyum sendiri bacanya”, tambahku.

“Iya, yang ikhwan jadinya ngin seperti Fahri, yang akhwat ingin seperti Aisha”

Apa iya, novel ini bisa seperti itu pikirku. Menanamkan karakter begitu kuat untuk dijadikan role-model. Inspirasi Hidup. Kalaupun sudah menamatkannya aku akan tetap berusaha menjadi diriku sendiri. “Dika dan segala kisahnya”. Ketika masih di Indonesia, novel itu masih sangat familiar di mataku. Aku ingat sampulnya yang berwarna crem dan coklat dengan wajah seorang wanita bercadar. Mana mungkin aku suruh rekanku mengirimkan nya dari Indonesia ke Jepang, hanya untuk sebuah novel. Apa sich yang tidak bisa dicari di internet. Setelah beberapa kesempatan berbincang-bincang melalui YM bersama rekanku Danang, akhirnya kudapatkan juga novel itu “e-book” version-nya. Danang yang saat ini juga menjalani program pertukaran pelajar ke Utsonomiya University mengirimkan file.pdf nya kepadaku.

“Le, anak-anak asrama ente tuh udah pada pengen nikah”, ucapnya waktu itu.

Ucapannya itu tidak lantas aku simpulkan ada hubungannya dengan novel ini. Aku yakin seumuran mereka memang sudah saatnya memikirkan pendamping hidup dan juga jalan masa depan. Di dunia dan akhirat. Kini hingga nanti. Hidup, mati dan hidup lagi.

Aku mulai membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, bagian demi bagian dari “Ayat-Ayat Cinta”. Novel setebal 314 halaman versi pdf nya telah kutamatkan. Hari ini selesai. Awalnya aku tak yakin bisa selesai apalagi bilangan halamannya yang membuat malas dan jemu bercampur-campur di awal waktu.

Ayat Ayat Cinta
Novel Pembangun Jiwa
Karya
Habiburrahman Saerozi
Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo

Begitulah tulisan yang tertulis pada halaman pertama. Dari lima baris itu aku menangkap erat kata-kata “Novel Pembangun Jiwa”. Apa iya? Hari ini selesai kubaca semuanya. Dan hasilnya iya. Subhanallah!

Aku tidak tahu kisah siapa ini sebenarnya, apa kisah fiksi, apa kisah sejati “kang abik” atau kisah di dunia lain. Aku tak tahu dan tak ingin tahu, paling tidak, cerita itu menginspirasi. Menyelesaikan halaman demi halamannya, selesai aku pada seperempat bagiannya. Cerita yang menarik, pikirku. Membaca pun aku selingi dengan pergi berbelanja. Maklumlah, kehidupan mahasiswa. Hari Rabu adalah waktunya memburu telur dengan harga murah di San-A yang deadline nya hanya sampai pukul delapan.

Namun hari Rabu yang waktu itu, kulewati dengan membaca novel ini hingga lewat pukul delapan malam. Bagiku tidak masalah, toh harga tanpa diskon masih bisa terjangkau bagiku. Malam itu, tidak sedingin dua minggu lalu. Okinawa sudah melewati titik dingin terendahnya Rabu malam itu. Namun setelah mataku lelah membaca novel itu yang baru selesai seperempat bagiannya, akhirnya kupaksakan kakiku melangkah ke San-A yang mungkin jaraknya satu kilometer. Kupluk abu-abu, training hitam dan sweater merah dan bersepatu. Tidak ada yang spesial berbelanja malam itu. Telur, ikan, sekotak susu dan ikan tuna kaleng. Mungkin bahan-bahan itu cukup hingga akhir pekan ini. Aku belum masak malam ini, jadi kubeli juga sebungkus makanan ringan seharga 100 Yen.

Enggan meluncur ke asrama terlalu dini, kuhabiskan malamku sepanjang habisnya sekantong snack yang kubeli tadi di bangku depan swalayan San-A itu. Habis kumerenung tentang hidup. Tentang wanita-wanita yang berlalu dan pergi dalam kehidupanku. Tetang perempuan-perempuan Jepang yang tak pernah bisa kumengerti jalan pikirannya. Atau tentang kenangan-kenanganku. Yang juga dengan wanita. Selintas lalu, mobil wagon meluncur di depanku bermuatan tiga orang wanita Jepang. Iya, semuanya wanita. Kuterka, mereka mungkin mahasiswi tahun pertama ataupun tahun kedua. Mereka parkir di San-A. Mungkin akan membeli sesuatu juga. Pikirku

Kunikmati saja kesendirianku dengan snack beraneka rasa itu. Sesekali kulirik tiga mahasiswi Jepang itu sudah turun dari mobilnya, dan menuju ke pintu masuk swalayan yang berada di dekatku. Satu orang masuk ke dalam dan dua lainnya menunggu di luar, mungkin hanya terpaut tiga meter dari tempatku duduk. Sesekali, kulayangkan pikiranku bagaimana jadinya ketika seorang dika memiliki kekasih seorang gadis jepang. Sekelebat pikiran itu masuk, kutepis jauh-jauh. Nuraniku berbisik,

“Dika, gak semua wanita yang ada di dunia ini, yang lu lihat dalam pandangan lu, harus menjadi bagian cerita hidup lu”

Iya juga. Kontan aku teringat kisah Fahri Abdullah dalam novel itu. Tidak banyak wanita yang mewarnai kisahnya. Maria, Aisha, Ibunya, Nurul, Noura. Terus bagaimana dengan gadis-gadis Mesir? Yah, mungkin sama dengan ketiga mahasiswi Jepang ini, pikirku. Tidak semuanya harus masuk dalam cerita hidupku.

Aku terhibur. Akan ada dua wanita agung yang berperan di balik sejarah orang besar. Ibunya ataupun istrinya bahkan keduanya. Aku memang bukan orang besar. Mungkin suatu saat, sebesar apapun aku menjadi tetap tak akan berakhir Yang Maha Besar. Tetapi aku memiliki bunda yang agung, yang Allah anugerahkan kepadanya kesabaran yang luar biasa. Kasih sayang yang tak habisnya. Serta keteladanan dengan istiqomah sebagai pengikatnya. Mungkin sejak aku kuliah ini, kurasakan Bundaku menjadi sangat berharga. Mungkin itu karena aku sudah semakin dewasa. Nasehatnya sederhana, tapi benar.

“Nak, jangan pernah tinggalkan sholat. Mintalah apa saja kepada Allah, karena itu yang akan jadi penolongmu”

Tadi malam, mataku basah oleh Al-fatihah. Aku tidak tahu mengapa ketika ayat-ayat ini terlantun saat sholat isya, air mataku keluar tak terbendung. Tangisku terisak-isak tak beraturan. Kerinduanku membuncah. Pada Tuhan, dan pada kelalaianku atas semua dosa-dosaku. Pandanganku tentang cinta berubah. Allah dan Rasul-Nya harus di atas segalanya. Melebihi impian-impianku tentang si dia atau wanita Jepang yang selalu menggoda isi kepala. Karena aku tahu betul merananya jiwa karena cinta. Kasih tak sampai. Tak akan kuminum racunnya meskipun aku pegang penawarnya. Tekadku. Dan ketika aku harus jatuh cinta, kuingin kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya agar aku bisa belajar mendapatkan kenikmatan Cinta-Nya dalam ikatan suci lagi diridhoi.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semesta alam”

 

Teman-teman ku sering bertanya tentang dari mana asalku,

aku akan menjawabnya, “Aku dari Lampung”

Dan terkadang mereka bertanya kembali kepadaku, “Bukan Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) kahn?”

“Oh enggak, saya putra daerah, ibu dari Pagelaran, Lampung Selatan Desa Cukuh Balak, dan Bapak saya dari Talang Padang, Gunung Meraksa.”

Maklumlah, Lampung adalah salah satu tujuan transmigrasi orang-orang dari Pulau Jawa.

Sedari kecil saya sudah diajarkan oleh ibu saya untuk terampil bekerja di dapur. Saya tidak tahu apakah ini kultur orang Lampung atau bukan. Sebab saya juga punya teman orang Lampung yang tidak kalah terampilnya di dapur. Memang saya dilahirkan di antara empat saudara saya yang juga laki-laki. Kami tidak memiliki saudara perempuan. Semuanya laki-laki, lima bersaudara. Mungkin kalau saya memiliki saudara perempuan, akan berbeda ceritanya. Tetapi itulah kehendak Allah.Soto Ayam Ala Okinawa

Teringat, saya sudah terjun ke “dunia dapur” sejak kelas III SD mungkin. Waktu itu kelas III dan IV masuk sekolahnya sore, jadi dari pagi hingga siang saya berada di rumah. Usai menemani ayah saya yang tukang es mengantarkan termos-termos ke sekolah-sekolah, ke warung-warung, dan juga tempat penitipan es lainnya, biasanya setelah itu adalah waktu belajar memasak bagi saya. Namun, kegiatan antar-mengantar es sudah saya lakukan dari kelas II SD. Bukan hanya bunda, tetapi ayahku juga mengajariku beberapa masakan.

Mulai dari kelas II SD, menggoreng telur, merebus telur, memasak mie instan sudah bukan menjadi masalah bagi kami berlima. Beranjak ke kelas III, masakan pertamaku adalah ‘sup ayam’. Mengupas kentang, wortel, memotong kol, mengiris bawang bukanlah hal yang pertama di kelas III. Saya yakin, jauh sebelum kelas III rasanya saya sudah bisa, sebab seingat saya, “akademi cuci piring Bunda” sudah ada sejak lama. Yap! Setiap dari kami punya giliran mencuci piring seusai makan dan malam. Siapa pagi, siapa siang dan siapa malam. Dan kebiasaan ini masih berlanjut hingga hari ini. Maka pastinya, melakukan persiapan-persiapan sebelum masak sup ayam sudah pernah ikut serta sebelum ditugaskan menjadi koki utama. Dan juga sebelum menjadi koki utama, biasanya Bundaku atau Ayahku yang membuatkan bumbu nya dan menggilingnya di lumpang batu. Sebab, aku dahulu belum bisa menghaluskan bumbu-bumbu itu dengan tangan-tangan yang masih mungil kala itu.

Selama mengikuti “Akademi Bunda”, seingat saya Bunda jarang sekali mengajarkan secara lugas ataupun menyuruh saya menghapal resep-resepnya. Namun ketika beliau memasak, atau membuat kue, kami berlima bergantian dipanggilnya untuk ikut serta ke dapur. Ada yang mencuci piring, ada yang mengupas bawang untuk memasak satu minggu, ada yang mencuci ikan dan ayam ataupun sayuran. Atau ketika lebaran akan tiba, dan musim membuat kue pun dimulai. Ada yang meletakkan selai nanas pada adonan kue nastar, ada yang mengupas kulit kacang untuk dijadikan ‘kacang telor’, ada juru panggang yang standby di sisi oven yang kadang-kadang sikunya hangus terkena sisi oven yang sangat panas. Itu Abangku!

Mungkin yang hendak diajarkan oleh bunda adalah “jiwa”. Layaknya enterpreunership bukanlah banyaknya usaha melainkan “jiwa” yang akan berdikari-berdiri dengan kaki sendiri. Sama halnya dengan memasak, bukannlah berapa banyak resep yang sudah kita pahami, tetapi seberapa terampil mengolah bahan mentah menjadi makanan yang menggugah selera.

Kadang aku menggerutu ketika disuruh oleh Bunda, khususnya mencuci piring dan membersihkan ikan.

“Kenapa sich Bunda, Andika terus yang disuruh…”, kataku kesal.

“Karena kalau kamu, hasilnya bersih,,,, “, puji nya sambil menghibur.

“Inget Nak kata Datuk (Kakek) kamu,,, Sipaulah Sinaulih……”

“Siapa yang berbuat, dia yang mendapat, Dang Lupa Datuk Lampung!”, celetuk Haikal adikku yang nomor empat.

“Iya Mah, Bang Dika aja, Dia itu hasilnya bersih….” tambah adikku, maksud hati agar dia lepas dari tugas-tugas Bunda.

“Besok-besok,, pokoknya gantian lah….!!”, kataku memaksa.

“Pasti ada manfaatnya Nak, untuk kamu juga”, timpal Bunda.

Saya mendapat kesempatan bersekolah jauh dari orang tua. Dan ternyata di Fakultas Perikanan. Kadang saya tersenyum puas ketika beberapa teman saya ‘kurang terampil’ menggunakan pisau pada sampel ikannya di beberapa praktikum. Thanks ya Bunda! Atau ketika rekan-rekan yang berulang tahun memercayakan acara syukurannya kepada saya. Ayam Bakar, nasi hangat, lalapan, kerupuk dan sambel kecap. Makannya rame-rame beralaskan daun pisang. Sebab dikontrakan saya dulu piringnya tidak banyak. Dan harus melayani semua ‘undangan’ yang ada. Sederhana tetapi menghibur. Alhamdulillah rekan-rekan semuanya suka dengan masakan kami. Apalagi kuah kaldunya itu. Racikan bawang merah, bawang putih, lada, garam, kunyit dan feeling. Acara “ikan bakar” di asrama pun, saya masih ingat. Kurang lebih 50 ekor ikan nila berhasil saya ‘preparasi’ dengan baik dengan bantuan rekan saya.

Dan tahun ini, ketika saya harus jauh dan sangat jauh dari orang tua, yaitu Okinawa, Jepang. Di Okinawa, adalah sentra makanan yang mengandung babi. Suatu toko makanan jadi (bento) pernah ada suatu promo yang bertuliskan “We Love Eggs and Pork”. Sebagai muslim, saya menghormati. Oleh sebab itu setiap hari saya harus melayani diri saya sendiri untuk urusan makan. Mulai dari mengupas bawang, membersihkan ikan, memasak nasi, menggulai daging, mencuci piring hingga menuangkan air putih. Sendiri. Sekali lagi saya harus berucap, “thanks ya Bunda!!”

Hal-hal tersebut bukan hal yang sulit bagi saya. Di Okinawa, bumbu-bumbu Indonesia jarang sekali ditemukan. Namun saya bisa memenuhinya dengan membeli melalui “online market”.

Yah, walaupun dengan bumbu instan, masakan saya alhamdulillah masih menggugah selera. Nasi Uduk, Opor Ayam, Rendang Ayam, Soto Ayam Cah Telur, Gulai Hati Sapi, Sambel Ikan Tuna-Kentang, Bubur Kacang Hijau, ataupun Gulai Gunyah-Ganyeh. Nah, masakan yang terakhir disebut itu kadang sudah tidak memperhatikan bumbu-bumbu lagi. Hanya mempermainkan feeling dan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Hasilnya?? Yah seperti lainnya juga “layak konsumsi”.

Akhirnya aku tahu mengapa Bunda ajari aku memasak. Sebab suatu saat aku akan berpisah dengannya, merantau jauh dari kedua orang tuanya. Dan suatu saat pula aku akan menyiapkan semuanya ketika istriku hamil tua. Atau ketika hari ini, ketika aku harus masak terlebih dahulu sebelum makan malam.


Jepang, ditulis pukul 21:20, perut lapar tetapi belum masak apa-apa.

Older Posts »