Senin, 25 February 2008
Hari ini aku berhasil menamatkan novel ke-dua dalam catatan sejarah hidupku. Bukan menulisnya tapi membaca. Orang-orang besar memiliki kebiasaan membaca. Tapi apa iya, mereka juga suka membaca novel yang kadang tebal halamannya mencapai angka tiga ratusan bahkan lima ratusan. Novel pertama yang kubaca adalah karyanya Motinggo Busye “Biarkan Kasihmu Selalu Biru”. Aku lupa persisnya jalan ceritanya, tapi aku ingat ketika itu, aku bangga bisa menamatkan membaca novel yang memang tidak pernah ada dalam kegemaranku. Itupun karena tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskan membuat resensi karya sastra berupa novel. Dan hari ini, mungkin 4 tahun setelah hari itu aku menamatkan yang kedua. Entah mengapa aku lebih suka membaca cerita pendek dan puisi ketimbang novel.
Ketika membaca puisi ataupun cerpen aku menemukan fragmen kehidupan yang sangat beragam, penuh hikmah dan tetap indah. Aku pernah dipinjamkan antologi cerpen “Batu Merayu Rembulan” oleh abangku yang kedua. Membaca judulnya saja, aku sudah terangsang untuk membuka dan menyelaminya. Kutemukan kisah “Perempuan Yang Tak Beragama” yang ingin dipinang oleh seorang pria yang sangat mencintainya. Dialog di mereka sangat sengit,
“Aku ingin menikahimu”, kata sang lelaki
“Aku tidak bisa”, jawabnya
Sang perempuan menceritakan semua kekurangannya dan “ketidak mungkinannya” menikah dengan sang lelaki. Mulai dari fisiknya yang jelek, juga dirinya yang tak beragama namun sang lelaki tidak peduli dengan semuanya sebab dia sangat mencintainya. Hingga di akhir cerita dan dialog mereka sang perempuan berkata,
“Tetapi aku tiada”
Lelaki itupun terdiam.
Atau kisah cintanya Soe Hok Gie yang dituangkan nya dalam puisi “Mandalawangi-Pangrango”:
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
Banyak hikmah, pelajaran dan inspirasi dari kedua bentuk sastra ini: cerpen dan puisi. Dan juga waktu yang dibutuhkan untuk menamatkannya hanya sekali duduk. Berbeda dengan novel yang bisa diselingi dengan tidur, berlibur hingga ujian akhir sidang skripsi. Tetapi mengapa untuk novel yang terakhir ini aku merasa penasaran untuk membacanya. Sangat penasaran. Bahkan, film nya akan di-release di tanah air akhir bulan ini. Novel karya Habiburrahman El-Shirazy akan difilmkan dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.
“Memang kamu belum pernah baca ya?”, tanya kawanku ketika chating dengannya.
“Belum, memang bagus ya?”,tanya ku.
“Saya sih penasaran aja, temen sampe senyum-senyum sendiri bacanya”, tambahku.
“Iya, yang ikhwan jadinya ngin seperti Fahri, yang akhwat ingin seperti Aisha”
Apa iya, novel ini bisa seperti itu pikirku. Menanamkan karakter begitu kuat untuk dijadikan role-model. Inspirasi Hidup. Kalaupun sudah menamatkannya aku akan tetap berusaha menjadi diriku sendiri. “Dika dan segala kisahnya”. Ketika masih di Indonesia, novel itu masih sangat familiar di mataku. Aku ingat sampulnya yang berwarna crem dan coklat dengan wajah seorang wanita bercadar. Mana mungkin aku suruh rekanku mengirimkan nya dari Indonesia ke Jepang, hanya untuk sebuah novel. Apa sich yang tidak bisa dicari di internet. Setelah beberapa kesempatan berbincang-bincang melalui YM bersama rekanku Danang, akhirnya kudapatkan juga novel itu “e-book” version-nya. Danang yang saat ini juga menjalani program pertukaran pelajar ke Utsonomiya University mengirimkan file.pdf nya kepadaku.
“Le, anak-anak asrama ente tuh udah pada pengen nikah”, ucapnya waktu itu.
Ucapannya itu tidak lantas aku simpulkan ada hubungannya dengan novel ini. Aku yakin seumuran mereka memang sudah saatnya memikirkan pendamping hidup dan juga jalan masa depan. Di dunia dan akhirat. Kini hingga nanti. Hidup, mati dan hidup lagi.
Aku mulai membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, bagian demi bagian dari “Ayat-Ayat Cinta”. Novel setebal 314 halaman versi pdf nya telah kutamatkan. Hari ini selesai. Awalnya aku tak yakin bisa selesai apalagi bilangan halamannya yang membuat malas dan jemu bercampur-campur di awal waktu.
Ayat Ayat Cinta
Novel Pembangun Jiwa
Karya
Habiburrahman Saerozi
Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo
Begitulah tulisan yang tertulis pada halaman pertama. Dari lima baris itu aku menangkap erat kata-kata “Novel Pembangun Jiwa”. Apa iya? Hari ini selesai kubaca semuanya. Dan hasilnya iya. Subhanallah!
Aku tidak tahu kisah siapa ini sebenarnya, apa kisah fiksi, apa kisah sejati “kang abik” atau kisah di dunia lain. Aku tak tahu dan tak ingin tahu, paling tidak, cerita itu menginspirasi. Menyelesaikan halaman demi halamannya, selesai aku pada seperempat bagiannya. Cerita yang menarik, pikirku. Membaca pun aku selingi dengan pergi berbelanja. Maklumlah, kehidupan mahasiswa. Hari Rabu adalah waktunya memburu telur dengan harga murah di San-A yang deadline nya hanya sampai pukul delapan.
Namun hari Rabu yang waktu itu, kulewati dengan membaca novel ini hingga lewat pukul delapan malam. Bagiku tidak masalah, toh harga tanpa diskon masih bisa terjangkau bagiku. Malam itu, tidak sedingin dua minggu lalu. Okinawa sudah melewati titik dingin terendahnya Rabu malam itu. Namun setelah mataku lelah membaca novel itu yang baru selesai seperempat bagiannya, akhirnya kupaksakan kakiku melangkah ke San-A yang mungkin jaraknya satu kilometer. Kupluk abu-abu, training hitam dan sweater merah dan bersepatu. Tidak ada yang spesial berbelanja malam itu. Telur, ikan, sekotak susu dan ikan tuna kaleng. Mungkin bahan-bahan itu cukup hingga akhir pekan ini. Aku belum masak malam ini, jadi kubeli juga sebungkus makanan ringan seharga 100 Yen.
Enggan meluncur ke asrama terlalu dini, kuhabiskan malamku sepanjang habisnya sekantong snack yang kubeli tadi di bangku depan swalayan San-A itu. Habis kumerenung tentang hidup. Tentang wanita-wanita yang berlalu dan pergi dalam kehidupanku. Tetang perempuan-perempuan Jepang yang tak pernah bisa kumengerti jalan pikirannya. Atau tentang kenangan-kenanganku. Yang juga dengan wanita. Selintas lalu, mobil wagon meluncur di depanku bermuatan tiga orang wanita Jepang. Iya, semuanya wanita. Kuterka, mereka mungkin mahasiswi tahun pertama ataupun tahun kedua. Mereka parkir di San-A. Mungkin akan membeli sesuatu juga. Pikirku
Kunikmati saja kesendirianku dengan snack beraneka rasa itu. Sesekali kulirik tiga mahasiswi Jepang itu sudah turun dari mobilnya, dan menuju ke pintu masuk swalayan yang berada di dekatku. Satu orang masuk ke dalam dan dua lainnya menunggu di luar, mungkin hanya terpaut tiga meter dari tempatku duduk. Sesekali, kulayangkan pikiranku bagaimana jadinya ketika seorang dika memiliki kekasih seorang gadis jepang. Sekelebat pikiran itu masuk, kutepis jauh-jauh. Nuraniku berbisik,
“Dika, gak semua wanita yang ada di dunia ini, yang lu lihat dalam pandangan lu, harus menjadi bagian cerita hidup lu”
Iya juga. Kontan aku teringat kisah Fahri Abdullah dalam novel itu. Tidak banyak wanita yang mewarnai kisahnya. Maria, Aisha, Ibunya, Nurul, Noura. Terus bagaimana dengan gadis-gadis Mesir? Yah, mungkin sama dengan ketiga mahasiswi Jepang ini, pikirku. Tidak semuanya harus masuk dalam cerita hidupku.
Aku terhibur. Akan ada dua wanita agung yang berperan di balik sejarah orang besar. Ibunya ataupun istrinya bahkan keduanya. Aku memang bukan orang besar. Mungkin suatu saat, sebesar apapun aku menjadi tetap tak akan berakhir Yang Maha Besar. Tetapi aku memiliki bunda yang agung, yang Allah anugerahkan kepadanya kesabaran yang luar biasa. Kasih sayang yang tak habisnya. Serta keteladanan dengan istiqomah sebagai pengikatnya. Mungkin sejak aku kuliah ini, kurasakan Bundaku menjadi sangat berharga. Mungkin itu karena aku sudah semakin dewasa. Nasehatnya sederhana, tapi benar.
“Nak, jangan pernah tinggalkan sholat. Mintalah apa saja kepada Allah, karena itu yang akan jadi penolongmu”
Tadi malam, mataku basah oleh Al-fatihah. Aku tidak tahu mengapa ketika ayat-ayat ini terlantun saat sholat isya, air mataku keluar tak terbendung. Tangisku terisak-isak tak beraturan. Kerinduanku membuncah. Pada Tuhan, dan pada kelalaianku atas semua dosa-dosaku. Pandanganku tentang cinta berubah. Allah dan Rasul-Nya harus di atas segalanya. Melebihi impian-impianku tentang si dia atau wanita Jepang yang selalu menggoda isi kepala. Karena aku tahu betul merananya jiwa karena cinta. Kasih tak sampai. Tak akan kuminum racunnya meskipun aku pegang penawarnya. Tekadku. Dan ketika aku harus jatuh cinta, kuingin kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya agar aku bisa belajar mendapatkan kenikmatan Cinta-Nya dalam ikatan suci lagi diridhoi.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semesta alam”