Suatu ketika, setelah saya melewati 5 hari hidup di Jepang tepatnya di Okinawa -suatu daerah paling selatan di Jepang- diajaklah saya berkeliling bersama rekan yang juga dari Indonesia. Dia mengajak rekan saya yang juga dari Indonesia -kita sama menjalani program serupa untuk satu tahun di sini- untuk mencicipi `Okinawan Soba`. Yup!! Okinawa adalah sentra makanan berbasis babi. Oh, iya tentu saja saya tidak bermaksud mencicipi `Okinawan Soba` tersebut. Saya hanya ingin berjalan-jalan, untuk sekedar menikmati suasana malam di Lingkar Kampus Ryukyu University.
Ada suatu cerita menarik yang saya dapatkan. Waktu itu kami bertiga masuk ke dalam sebuah `warung` makanan yang menjual `Okinawan Soba` tersebut. Ketika sampai di depan pintu seorang juru masak menghampiri kami dan bercakap-cakap dengan salah seorang rekan kami yang menguasai bahasa Jepang.
Lalu kami pergi dan memutuskan mencari tempat yang lain. Usut punya usut ternyata koki Jepang tadi berkata kurang lebih seperti ini:
`Tentu saja ada Okinawan Soba di sini, tetapi mungkin kalian akan menunggu lama, sebab kami hanya memasak berdua saja!!`
Waktu itu memang, suasana `warung` makanan tersebut sedang ramai-ramainya.
Oh,, begitu ya. Mereka dengan lugas, terus terang mengatakan hal sebenarnya. Mereka tidak mau menerima tamunya begitu saja semata-mata karena uang. Mungkin!!
Huhu….
Islami bgt ya…
Itu yang belum kita punya guys….
Btw, blognya masih baru bgt..ayo isi dan be productive boy…
ya
kasian kali kalo u pada nunggu
apalagi liat muka u ka’