Hari ini tanggal 7 Februari 2008,..
Allah memberikan karunia yang Luar Biasa lagi. Akhirnya saya bisa “naik panggung” dalam acara Ryukyu University Speech Contest for International Student 2008. Yah.. seperti cerita-cerita sebelumnya, bagi saya mencoba adalah hal utama. Saya SUDAH Mencoba.. itu saja. Semua orang saya yakin bisa berbicara, sekalipun yang tidak (dikaruniai) bisa berbicara. Tetapi sebagai makhluk sosial, berkomunikasi satu dan yang lainnya adalah kebutuhan naluriah, entah dengan bahasa apa apa saja. Sebab salah satu sifat bahasa adalah ar-bi-trer yaitu: anda mengerti, saya mengerti, cukup!
Ikut gak ya??
Lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa bahwa proses adalah jalan yang bisa kita tempuh, perkara hasil Allah lah yang Maha berkehendak dan Sebaik-baik Yang Berkehendak. Entah mengapa saya ingin ikut serta dalam Speech Contest ini, saya juga sedikit lupa. Pada awalnya sensei (guru) bahasa Jepang saya sudah mengumumkan bahwa akan ada “Lomba Pidato” di akhir pelajaran dan hal itu di-per-untuk-kan kepada mahasiswa asing yang bersekolah di universitas ini. Namun, pada penawaran kali pertama tidak satupun (entah enggan atau malu) siswa yang mengacungkan tangan tanda ingin ikut serta. Dahulu, dahulu sekali saya pernah berpikir untuk ikut serta topiknya pun sudah sempat dipikirkan, namun ketika kesempatan itu terlewat,, ya sudahlah, begitu pikirku.
Namun sejarah berkata lain, sejarah berkata lain. Sekitar 5 kelas sebelum acara tersebut diselenggarakan, Sensei kami kembali -mempertanyakan- ..
“Jya, dare ga Spiichi Contesto o yaritai desu ka?” (Nah, jadi siapa nih yang mau ikut speech contest)
tanpa ba-bi-bu, kuacungkan saja tangan tanda hati berhasrat ikut serta. Harapannya sich, teman-teman yang lain ikut-ikutan, rame-rame gitu loh,, Dan ternyata lagi, hanya tanganku yang tegak berdiri mengharap petunjuk langit.
“Andika dake?!” (Hanya Andika), tanya Sensei.
“Hai…….” sahut semua.
Ya sudah.
“Dika wa spiichi no topiku wa kangaete kudasai, ato getsu yoobi wa oshiete kudasai!”
(topik Speech-nya pikirkan dulu, hari senin nanti tolong diberitahu)
Sepulangnya dari kelas bahasa Jepang itu, niatan yang semula pernah ingin kuceritakan dalam “speech contest” itupun kucoba tulis dalam bahasa Jepang yang tidak seberapa Luar biasa itu. Kuambil selembar kertas dari ‘binder’, alhamdulillah tutorku pun sedang ada di laboratariumku. Namanya Tomoko Hiratsuaka. Beliau ini sudah dan akan jadi tutorku selama di Jepang. Kata temenku sich…
“Dika, nanti lu bakal dapet tutor yang bisa lu minta bantuannya apaaa sajaa selama satu tahun…”
Nah, kenapa gak kita coba aja menyusun naskah nya dengan beliau. Sebenarnya perihal ini sudah pernah kami diskusikan sebelumnya jadi dia pun, sudah mengerti ke mana arah pembicaraan kami setelah saya menyapanya.
“Tomoko san, isogashii…?” (Tomoko, sibukkah?)
“Uun… nani?”, (Enggak, ada apa?)
“Watashi wa speech contesto o yaritai dakara, “script” o isshoni shodang shite mo ii desu ka?”
(Saya mau ikutan speech contest nih,, diskusiin skrip nya bareng-bareng boleh gak..?)
“..ehmm ii yo” (boleh atuh…)
Jalan punya cabang dan bahas punya kata, akhirnya skrip jadi. Pendahuluannya dan Penutupannya. Serta beberapa hal yang kelak akan dibahas pada bagian isi. Lumayan…
Waktunya, cukup mepet juga sebab kurang lebih 2 minggu kemudian itu naskah harus dipentaskan dalam acara “International Student of Ryudai Speech Contest 2008″
Saya juga minta bantuan kawan-kawan Indonesia -fany- sebagai penyunting isi naskah, dan Aji sebagai penyumbang inspirasi dan kata-kata. Naskah pun diedit lagi dengan tutor ku.
“Dika, this is not so good, strange Japanese…” – dia membaca naskah editan fany yang notabenenya bukan orang jepang toto’-
“ah,,, honto,,So, what is your opinion?” (really?!)
Setelah cret di sana dan cret di sini akhirnya itu naskah jadi juga sebelum direvisi akhir ke guru bahasa Jepang.
Good Effort=Nice Time
Masuk ke Sensei bahasa Jepang sempat terjadi tarik ulur, sebab beberapa bagian “dihilangkan” oleh Sensei sebab katanya kurang menarik. Dan beberapa pun ditambah, biar lebih tajam tentunya. Yah, sebagai student dan tentunya orang asing… saya mah nurut aja..
Tetapi, akhirnya saya sadar itu naskah sedikit lebih berbobot walaupun lebih simpel. Coba dan terus dicoba untuk menghitung lamanya waktu bicara, ternyata memakan waktu pada kisaran 3 menit. Artinya kadang lebih kadang juga kurang. Kata panitianya, maksimal 3 menit. Ketika saya berhasil di bawah 3 menit itu, asumsi nya (dan keharusannya) saya tidak membuat kesalahan ejaan dan juga tidak lupa. Tetapi sejarah juga yang mengajarkan kepada saya bahwa saya (manusia) pernah dan bisa lupa juga. Akhirnya ‘complain’ (=baca ingin diskusi lagi) pun saya tujukan kepada Sensei.
“Sensei, sumimasen. kono tekisto wa chotto nagai… 3-pun 10-second desu…” (teks ini agak kepanjangan….)
“3-pun gurai wa daijyobu yo… ” (sekitar 3 menit mah gak papa koq)
“Shinpai shinaide kudasai.. ” (Dont worry..)
Tapi, namanya perasaan kan gak bisa dibohonginkan. Saya pengen satu atau dua kalimat dipotong.
“Sensei, 1-2 bunka o katto shitai desu…” (Sensei, 1-2 kalimat pengen dipotong)
“Dore,,,” (yang mana?)
“ahh,, kore wa nagai desukara chotto taihen,, do desu ka?” (Nah yang ini, panjang bener nich,, agak susah juga, gimana tuh?)
“ah,, so.so.so”, kata Sensei tanda setuju.
Terus kita tes deh, dan hasilnya 2 menit 57 detik. Nice!!
Satu hari sebelum tampil yang sesungguhnya harus masih ada perubahan teks. Fiuhhh. Kita coba edit lagi dan print ulang untuk latihan. Namanya juga usaha yach!!
Batik dan Sepatu Pantopel
Entah mengapa setiap menjelang acara-acara penting, jantung ini berdebar-debar. Football match, Final exam dan termasuk juga Speech Contest. Yang terakhir itu, mungkin kali pertamanya saya ikut serta. Dan tidur malam itu terasa berbeda. Dalam tidurku, teringat urutan-urutan kata yang harus diucapkan besok. Selain itu, aku bermimpi kalau rambutku dicukur. Jadi lebih pendek tentunya. (masa lebih panjang). Salah satu cita-cita di Okinawa adalah memanjangkan rambut. (Mau tau kenapa? Tunggu ulasan selanjutnya selama persediaan masih ada. Hehehe). Sebab banyak teman-teman Indonesia yang c*w*k khususnya menyarankan untuk dipotong dan dirapikan sebelum besok.
Semua rasa bercampur jadi satu hingga semuanya ingin saya lalui segera mungkin.
Pagi pun tiba, namun perasaan pagi ini cukup berbeda dengan semalam. Badan terasa lemas, dan kakipun amat berat untuk dilangkahkan. Pagi ini harus mandi dulu, mana belum masak lagi. Maklum akhir-akhir ini cuaca di Okinawa berubah menjadi cukup dingin dengan angin yang setiap harinya bertiup dengan kencang. Hari ini menurut ramalan cuacanya Yahoo! sekitar 16C.
Sepatu pantopel kulit yang sejak empat bulan lalu pernah dipakai sekali dalam “Welcome Party-nya Okinawa” kucoba semir kembali sebab hari ini adalah hari pentingku. Kata bundaku aku tidak boleh berpenampilan kusut. Sepatu pantopel hitam itu kusemir menjadi hitam mengilap. Kilapnya pun seperti baru.
Awalnya, saya akan menggunakan pakaian jas lengkap dengan dasi. Meskipun lelaki, saya belum bisa secara benar mengenakan dasi. Jadi saya putuskan menggunakan batik-pakaian tradisional Indonesia-. Batik itu sebenarnya untuk cendera mata, masih terbungkus rapi. Tetapi 2 batik yang dibelikan bundaku, satu agak kurang bersih dan yang satu kebesaran. Dan dalam harap-harap cemas, kuharap batik yang masih dibungkus ini pas di badanku. Alhamdulillah pas! Kalau jodoh memang gak kemana….
Andika al-Tariq
Meskipun masih pagi (09.30- di Jepang masih cukup pagi ini), suasana University International Hall sudah cukup ramai. Di banyak penjuru, rekan-rekan peserta berlatih melancarkan masing-masing naskahnya. Hari ini saya akan tampil pada urutan ke-DUA dari awal. Deg-degan banget (Doki-doki suru). Tangan pun terasa dingin. Ini sebuah perasaan yang tak biasa, kucoba menenangkan diri. Kuingat beberapa pengalaman tampil di depan kelas ketika di IPB dulu.
Tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Apa sich susahnya bicara di depan umum..
Setiap hari juga biasanya, bicara di depan.
Tetapi mengapa hari ini berbeda. Dan inilah kenyataannya. Tangan terasa begitu dingin, jari-jari kaki pun sama dinginnya walaupun telah dibungkus kaos kaki. Badan gemetaran, jantungpun berdebar-debar.
Naskah yang sudah ku-print kemarin kulipat rapi-rapi dan kuletakkan di saku batikku yang bawah, agar ketika aku mencabutnya para juri dan pemirsa tidak melihatnya.
Sesaat sebelum peserta pertama tampil atau tepatnya kurang lebih 4 menit sebelum penampilanku teringat seorang sahabat kita – Tariq bin Ziyad-. Beliau, membakar habis semua kapal-kapalnya ketika berjuang di Andalusia-SpanyoL untuk membuang kemungkinan kedua.
“Kita menang di sini, atau kalah sebagai syahid….”
Beliau sengaja menghilangkan kemungkinan .. “Kalau pun kalah kita masih bisa pulang.” untuk mengobarkan semangat rekan-rekan yang dipimpinnya.
Teringat hal itu, kuputuskan mengubur kemungkinan kedua “melihat teks” ketika membaca. Dan akhirnya naskah pidato yang sudah kami buat, kulipat kecil dan kumasukkan di saku celana. Dan takkan aku keluarkan ketika di panggung. Mungkin saja aku tidak akan melihat naskah itu meskipun aku letakkan di depanku. Tapi aku khawatir, otakku menyandarkan kekuatannya pada kertas naskah itu… Dan berhasiL, pidato tanpa naskah!
Aku berpikir, saingan terberat kita adalah diri kita,.
Jangan pernah berpikiran mengalahkan orang lain,.
Kalau kamu pernah menghapal 100% maka keluarkan lah usahamu semaksimal mungkin.
Tiga menit berlalu, pidato pun selesai. Namun kesan adalah kesan. Kenyataan yang tertinggal. Mau bagaimanapun kita protes dan geram pada diri kita sendiri, itulah kenyataannya. Dika tidak bisa tampil seperti 100% yang diharapkannya. Dan memang No body’s Perfect.
Kesempurnaan hanyalah milik-Nya, pemilik kesempurnaan abadi, penguasa jagat raya, penggenggam langit dan bumi, Rabb-nya segala penjuru mata angin.
“Rabb, kenyataanya adalah seperti itu,
alhamdulillah Engkau menolongku,
Thanks God! Hasilnya, itu prerogatifMu.
Aku ingin menjadi juara sedang Ridho-Mu juga menjadi milikku”
Saya masih yakin-seyakinnya, kalau Tuhanku adalah Rabb Yang Maha Keren, yang bisa membuat segalanya jadi mungki, kenapa tidak..? Hayo…
Seperti Cerita Lainnya..
Bagiku, mencoba hal baru sudah cukup bagiku. Aku takut aku berkata akan lebih baik padahal tidak pernah mencoba. Walaupun ketika hasilnya tidak seberapa, paling tidak aku tidak akan penasaran. Aku pernah, itu saja.
Terima kasih Allah, terhadap semua yang telah Engkau berikan.
Kesempatan dan Kerja Keras,
Peluang dan Harapan,
Proses dan Suka Cita,
serta Persahabatan dan Pengalaman.
Siang itu, seperti biasanya aku coba menenangkan diri sejenak. Sekaleng susu dari Vending Machine, ditemani sweater merahku. Ada satu tempat di kampus Ryukyu yang cukup aku senangi, yaitu di depan perpustakaan. AKu hanya duduk seorang diri. AKu ingin berbagi kebahagiaan ini dalam kesepianku. Tapi dengan siapa? Bunda! Orang yang paling mengerti aku. Aku kirimkan sebaris sms kepada ibuku tersayang, wanita agung dalam hidupku. (Akan kucari siapa yang satunya lagi…)
“Assalamu alaikum Bunda, alhamdulillah Andika Juara 1 Lomba Pidatonya, terima kasih ya Bunda untuk semuanya..”
Sesekali kuteguk susu kaleng ku yang sedari tadi sudah dingin, dan sesekali kusapa teman-teman yang kukenal dari kejauhan.
Teleponku berbunyi, kulihat di layar handphone ku ternyata “Armido-San” calling..
“Assalamu alaikum,,,,”, sapa dia.
“Walaikum salam..”
“Denger-denger dari mamanya Zaky lu juara speech contest yah??”, tanya dia sambil tertawa kecil tidak serius.
“Ya,, gitu dehh…”
“Yokatta ne… Selamat ye.!”
“Tenkyu..tenkyu boss… “
“Dimana lo sekarang..” timpalnya
“Biasa, di depan toshokan (perpus)…”
“Ma siapa…?”
“Sendirian,,, lu dimana?”
“Hahahaha… tawanya terbahak-bahak, gua diparkiran nih,, mau pulang dulu gua mau makan..”
“Guaaa ikuttt,,,,,!”, sahut ku penuh harap.
“Hahaha,, yah bolehlah tunggu di International Student dech!”, tawanya mengejek
Maklum, jauh sebelum istrinya datang, kehidupan si Armid -perkara makan- tidaklah seindah sekarang. Pagi sarapan, pulang siang- luch-., usai sholat isya-makan malam.
Sembari menunggu, kuhabiskan sisa minumanku yang memang sudah tidak banyak lagi.
Sekali lagi, handphone ku berdering, bukan telepon tetapi sms.
“Ya Alhamdulillah, mama tadi malam mau sms kamu jam2 mau bunda ajak sholat tapi enggak jadi, takut kamu ngantuk. Peluk cium buat kamu atas berhasilnya kegiatanmu, Bunda selalu mendoakanmu..”
Aku kehilangan kata-kata, meski waktu terus berjalan dan hari semakin siang.
Tersadar, handphone ku berdering sekali lagi, akhirnya aku segera berlari menuju parkiran International Student.
“Pasti Si Armid sudah menunggu..”, pikirku.
-Nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang akan kamu dustakan?!”-
Artikel ini ditulis setelah menjadi Juara Pilihan Pemirsa
“International Student Speech Contest of Ryukyu University”
for basic level class.
subhanallah… omedetou gozaimasu…!
teruskan perjuangan ya!
kak dika, speechless nih…
makasih ya, rifi banyak belajar hari ini.
duh, jadi beneran ngecharge semangat lagi nih ^^
“subhanallah… omedetou gozaimasu…!
teruskan perjuangan ya!”, Nur said.
Terima kasih ya Nur, Semoga Allah kasih kesempatan juga ke kamu.
“…..makasih ya, rifi banyak belajar hari ini…….”, Rifi said
Alhamdulillah kalo tulisan ini bisa memberi semangat.
Caiyoo.. semuanya semangat!!
mantab bener……
two thumbs up
SUGOIIIIIIIII ……………
ga da yg ga mungkin ya …………………. ^^
日本へ行きたいので日本語の弁論大会を参加するつもりです、どんなテーマがいいかまだ知らない。作っていただけませんか?よかったらメールで送信してくれてね!39