Siapa yang tidak tahu maksud judul di atas. Tidak ada maksud lain, selain MAKAN MALAM. Hal ini yang aku biasa lakukan di sini dengan memasak sesuatu yang spesial. Ini bukan sembarang “dinner”. Makan malam yang aku maksud makan malam yang biasanya aku adakan setiap Selasa malam dan Sabtu malam, atau kadang-kadang Senin malam.
Tiga hari itu, makan malam ku berbeda. Hari Senin malam biasanya setelah latihan taekwondo, dan hari Selasa, Sabtu malam setelah pulang latihan sepakbola. Aku paling tidak tega memasak banyak dan makan sendirian. Batinku meringis.
“Dika serakah”, ujarnya.
Selain itu, karena aku orangnya memang dominantly extrovert, butuh interaksi dengan orang lain lebih banyak daripada menyendiri. Lebih banyak loh. Bukan, kontemplasi tidak butuh yah. (catet!!)
Nah, selain kalau makan sendiri merasa kesepian, mengundang teman makan malam bersama menjadi hal yang sudah “rutin” kulakukan. Kebanyakan saya mengundang teman saya dari Papua New Guinea, Tilford, masih satu ras dengan saudara kita di Papua, dan teman saya, Koutaro. Ia orang Jepang.
Teman saya yang pertama itu, bisa dibilang friendly person dan juga “gaya hidupnya” tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia. Orang yang banyak kesamaannya lebih mudah akur. Kalau yang kedua, bisa dibilang 65% orang Jepang, selebihnya International soul. Sedikit berbeda dengan orang Jepang pada umumnya yang “agak” menutup diri, dan “terkesan” (menurut saya) eksklusif karena gaya bergaul atau berteman merekan yang “group inclusive”, beliau ini, si teman saya itu memiliki cara berpikir yang lebih terbuka (open minded). Beberapa kali kita DINNER dan membahas apa saja yang kita anggap menarik. Mulai dari masalah Amerika, Oil dan Gas, budaya masing-masing negara, lifestyle, cewek, ke-Jepang-an hingga kepercayaan. Si Tilford seorang kristian, kalau si Koutaro dalam masa pencarian.
Kalau “naluri lelaki” saya mengatakan atau bisa dibilang berharap merasakan atau menjalani dech “ROMANTIC DINNER” dengan seseorang yang saya undang. Seseorang yang seseorang ya maksudnya. Itu harapannya. Tapi saya ingat, teman baik adalah rezeki. Yah itu dia, dalam setiap sesi makan malam spesial saya mungkin bukan bersama orang “yang menurut saya” spesial tapi dengan “teman baik” yang saya bisa berekspresi apa saja, yang bisa memberikan pendapat apa saja. Yang bisa meminta pembenaran bahasa Inggris dan Bahasa Jepang saya, tanpa sungkan. Tidak dengan orang Jepang pada umumnya, yang masih saya harap-harapkan.
Hari ini, kami memasak dua jenis masakan cumi-cumi. Satu di semur kecap, satu lagi sup cumi bumbu lodeh. Nah loh. ditambah Mackerel Fried dan Apple Tea. Walaupun sedikit kami menikmati. Dan bagi saya, tidak perlu memasak berlebihan, cukup apa adanya. Saya menjadi orang merdeka. Dengan dua orang ini saya tidak harus tampil sempurna. Tidak perlu ada pura-pura.
dika
(okinawa: 13/Mei/2008)
eh, itu adalah yg berubah
angka 8 pada 2008 dan tutup kurung jd emoticon
waah enaknih kyknya jdi temennya dika, diajak makan terus, lumayan …. bisa makan menu yg berbeda selama 3 hari. xixixixixixixi
“eh, itu adalah yg berubah
angka 8 pada 2008 dan tutup kurung jd emoticon”,
maksudnya gitu mas Luthfi, tapi males ngedit ulang. masih keren juga koq, hehehhe
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Advertising!!!