Setidaknya ketiga elemen di atas masuk ke dalam satu alasan mengapa orang-orang mengunjungi Okinawa. Ketika kelas pendahuluan “Sejarah dan Kebudayaan Okinawa”, guru saya mengharapkan umpan balik dari siswanya.
“How do people visit Okinawa?”
“Blue Sky, Nice Sea and Sun!”, jawab saya.
“Exactly”, kata Sang Guru
Itu salah satu alasan mengapa orang-orang baik penduduk dari kepulauan utama maupun penjuru dunia mengunjungi Okinawa. Sebagian dari mereka ingin mengunjungi daerah asal nenek moyang mereka, orang Hawai contohnya, dan sebagian yang lain mengharapkan ketiga hal tersebut: Blue Sky, Nice Sea and Sun.
Meskipun terletak di daerah sub tropis, secara klimatik, Okinawa masih mendapatkan cahaya dan kehangatan matahari lebih banyak dibandingkan kepulauan utama Jepang. Selain itu pula, Okinawa merupakan gugus kepulauan yaitu kepulauan Ryukyu tidak heran “most favourite spot” di Okinawa adalah wisata laut.
Ditambah lagi Okinawa memiliki budaya, bahasa dan adat kebiasaan yang mungkin tidak ditemui di kepulauan utama Jepang. Orang-orang Okinawa menyebut diri mereka “Uchinancu” dan menamai bahasa Okinawa “Uchinaguchi”. Kadang-kadang orang dari luar Okinawa tidak mengetahui apa yang orang Okinawa katakan ketika mereka menggunakan bahasa daerah mereka.
Satu yang saya ingat dari bahasa Okinawa adalah ucapan “selamat siang” yang dalam bahasa Jepang standar adalah “konnichiwa”, di Okinawa terkadang kita mendengar “Haisai” yang artinya juga selamat siang. Untuk alasan budaya ini, orang-orang dari kepulauan utama Jepang menganggap Okinawa sebagai “luar negri” nya Jepang. Saya memberi istilah EKSOTISME BUDAYA. Dan memang lebih lanjut saya bisa bilang, Okinawa adalah tempat paling eksotis se-Jepang, dan Kyoto adalah daerah paling “Jepang” se-Jepang atau bahasa anak mudanya “Jepang Banget dech”
Nah, sebenarnya tulisan ini saya dedikasikan kepada rekan saya yang “terkesima” ketika saya bercerita kepada beliau tentang pengalaman saya minggu lalu.
Secara pribadi saya jatuh cinta pada Langit Biru nya Okinawa ketika pukul 9 atau 10 pagi. Istilahnya “Mentari Okinawa di waktu Dhuha”. Subhanallah sekali pemirsa. Kalau saya boleh memberi nama pada suasana kala itu, langit itu langit orang-orang yang optimis dan orang ikhlas. Bukan hanya malu yang saya dapat ketika langit birunya itu menatap saya lebih dulu sebelum mata saya menatapnya di pagi hari, tapi juga penyesalan luar biasa.
“Mengapa tidak lebih pagi saya memulai aktivitas hari ini”, pikirku.
Itu langit birunya, lantas bagaimana dengan Laut biru nya yang saya kesankan begitu ‘wah’ nya. Minggu lalu saya mencoba bermuamallah secara naturaliah. Mencoba berinteraksi dengan alam. Dengan Laut. Kami berempat, saya, dan ketiga teman saya, Aji, Chihiro dan Aizad, mereka orang Indonesia, Jepang dan Malaysia berturut-turut. Kami menuju ke Cape Maeda (Maeda Misaki), sebuah “famous spot” untuk diving dan snorkeling.
Setelah menjelajah lebih kurang 45 menit tibalah kami ke lokasi tujuan, menyusuri perkebunan tebu yang masih mudah, dan menerobos sedikit jalan setapak, terhamparlah lautan luas membentang dengan garis horizonnya di tengah warna biru yang teduh. Warna pasirnya putih, menghampar bersih. Saat itu sedang surut. Sejauh 150 meter mata memandang, tumpukan “karang mati” dihempas ombak berwarna biru. Di sanalah pecahnya gelombang itu. Daerah dihempaskan ombak di tepian karang mati itu merupakan batas perairan dangkal dan perairan yang lebih dalam.
Ini kali keduanya saya turun snorkeling. Hari itu cukup dingin. Untungnya Aji berbaik hati meminjamkan “wetsuit” nya yang setebal 5mm itu. Selama hampir dua jam bersnorkling ria rasa dingin masih bisa ditahan. Memantau dunia bawah air yang luar biasa itu. Ikan-ikan seolah menatap tajam ke arah kami. Sembari meggerakkan “fin” di dalam air dan melepas snorkel saya mencoba menanyakan suatu hal kepada Aji, yang notabenenya adalah seorang diver (penyelam).
“Bang, bilamana seorang diver memperoleh kenikmatannya?”
Mengajukan pertanyaan ini, batinku seolah berada di puncak Jongrang Saloka, Mahameru yang memang sebagian pecinta Gunung akan mendapatkan kebahagiaan, melupakan seluruh penat, hilang semua rasa lelah ketika mereka mencapai puncaknya. Maklum saja Gunung tertinggi se-Pulau Jawa itu memberikan kenangan yang luar biasa kepada saya. LUAR BIASA!
“Ehmm apa ya?”, jawabnya.
“Ketika dia menikmati alam yang tidak bisa dinikmati orang lain”, tandasnya seperti itu.
Memang setelah kupikir laut dan gunung sama misteriusnya. Banyak orang mencari kebahagiaan di Gunung, tak sedikit yang rekreasi ke pantai. Banyak yang wafat di gunung, banyak juga yang hilang di laut. Kalau Musa AS menerima wahyu Allah di “Muqaddash Tua” Gunung Sinai, beliaupun menjadi saksi kebesaran Tuhan di depan laut merah ketika Firaun dibinasakan.
Kalau boleh saya berkata jujur, pemandangan bawah laut di Cape Maeda tidak seindah yang saya lihat ketika snorkeling pertama saya di Pulau Tidung.
“Bang kenapa coralnya gak banyak sich?”, tanya ku lagi sambil membersihkan maskerku.
“Apa karena ombak di sini lumayan besar?”, tambah ku.
“Gak juga sih, mungkin di sini terjadi sedimentasi, sehingga coral-coralnya mati.”
Ya, memang begitu adanya. Tapi laut biru itu tidak lantas hilang begitu saja dalam ingatanku.
Dan ketika perjalanan snorkeling saya pertama ke Pulau Tidung, kesan yang saya dapatkan sangat memilukan. Kami berangkat dari pelabuhan muara Angke, Jakarta. Keindahan bawah air Pulau tidung terlalu indah dibandingkan dengan perasaan ketika keberangkatan. Menggunakan perahu motor berkapasistas sedang, kami berangkat dari Muara Angke, Jakarta.
Baru saja duduk di dalam kapal itu, ingin rasanya meninggalkan pelabuhan ini. Aromanya tidak sedap, air lautnya hitam. Warnany hitam seperti genangan minyak dan limbah. Tentu saja aku penat melihatnya. Kapal mulai berjalan, angin laut mulai berhembus. Berkilo-kilo meter jauhnya kami berlayar di atas laut yang berwarna hitam tanpa buih. Berlayar di atas air laut yang tampak seperti minyak. Pekat. Hitam.
Itulah realita, tentu alam menggambarkan apa yang terjadi di masyarakatnya. Dia akan bercerita tentang apa saja yang telah diterimanya tentang apa yang telah disaksikannya. Air laut hitam itu menggambarkan warga Muara Angke yang penuh kegetiran hidup. Hitam. Bau. Ironis memang, mereka tinggal di tepi laut tapi tidak mendapatkan ikan. Wajar saja, sebab tingkat polusi dari pabrik-pabrik sekitarnya dan budaya sanitasi yang sangat buruk tergambar jelas di mataku dalam laut berwarna hitam itu. Pekat.
Hari semakin siang, mentari pun semakin tinggi. Langit biru, langit orang-orang optimis membahana meninggalkan langit Jakarta yang kelabu. Air laut pun berubah menjadi biru muda. Burung camar mulai nampak berterbangan, menandakan eksistensi ikan yang rumahnya kami singgahi siang ini.
Jauh semakin jauh, sekeliling hanya horizon tak bertepi, air semakin biru dan rasa gundah mulai hilang. Mataku mulai sampai ke pada awan putih lembut, dengan warna air laut yang mencerminkan ketulusan dan kesejahteraan. Pulau tujuan mulai terlihat. Dan matahari semakin anggun. Seperti langit biru, laut yang indah dan matahari yang kulihat di Okinawa.
“Ah, mungkin minggu depan kita pergi snorkeling lagi”, pikirku.
Lamunanku buyar.
(kenangan dalam sebuah tulisan)
dika
cool…