[ini postingan request dari kawan yang ingin nama mereka masuk dalam dika`s story series]
Banyak orang bilang antara “benci” dan “cinta” itu hanya sehelai benang bedanya. Yah, memang isi hati siapa yang tahu, tetapi kadang kita juga tidak bisa menebak ke arah mana hati kita akan berlabuh. Ketika bersama, rasa benci, dengki dan persaingan seperti tak akan terhindari. Namun ketika berpisah sama lain, mungkin ada rasa rindu juga. Gelisah itu bukan kala bersama, melainkan ketika jauh dengannya.
Hal ini aku jumpai kepada dua rekanku, namanya Rafiz dan
Hamizan. Kedua kawan ini adalah sejoli dari negeri jiran, Malaysia. Sudah lama sejak kelas persiapan bahasa Jepang selama dua tahun di Malaysia, kini keduanya mengadu nasib di negeri matahari terbit, Jepang tepatnya dalam kehidupan eksotisme budaya Okinawa.
Persaingan di antara keduanya kerap tak bisa dihindari. Rafiz yang ingin dipanggil akrab dengan nama “Ajis”, sang karib pun berganti nama sapaan “Mije”. Berada dalam satu jenjang di mayor “mechanical engineering”, university of the ryukyus, tinggal dalam satu apartemen yang mereka sewa dekat dengan kampus setelah satu tahun tinggal di asrama universitas.
Keduanya, saat ini sedang menggiatkan diri untuk menata tubuh alias muscle building. Kontan saja persaingan semakin menarik. Di satu sisi Ajis sedang melakukan angkat barbel, Mije pun asyik dengan sit-up nya. Tak puas melihat Mije sit-up, Ajis yang tak puas hati segera berganti menu latihan turut sit-up juga. Mije pun ambil alih latihan angkat barbel.
Dengan gagah keduanya berpose di depan cermin saling memperagakan badan mereka yang sejak dua bulan ini, memang harus diakui, sudah mengalami perubahan. Walaupun tidak begitu signifikan. Itu pendapatku. Tetapi entah mengapa keduanya tidak mau saling mengakui dan mengapresiasi “self progress” masing-masing.
“Jis, apa benda ni, macam petak-petak lo, badanku?”, tanya Mije sambil menunjuk garis-garis bentuk di perutnya.
“Weey, apa hal tu, biasa saja lah”, Ajis mencoba menutupi kenyataan.
“Ini badanku lebih bagus lagi, dadaku lebih maju, tengoklah!!”, tambah Ajis.
“kau cakap jujur lah, badanku lebih bagus!”, kata Mije yang tak terima.
“tak, kau cakap dulu,, baru aku jujur”, Ajis tak puas hati
“Okelah, badan kau ada perkembangan sikit”, Mije mencoba jujur
“Sekarang kau jujur!” ganti Mije minta pendapat Ajis tentang badannya
“Dengar, badan kau tu, tak nampak apa-apa!”, jawab Ajis simple.
“Apa hal, tipu kau”, sergah Mije sudahi pembicaraan.
Lain cerita lagi ketika musim ujian datang. Secara kasat mata, memang Mije lebih rajin daripada Ajis. Dua hari menjelang ujian, Mije sudah memulai belajar, mengumpulkan materi, berlatih soal dan duduk tekun di meja belajarnya. Sementara Ajis, masih mengeluh dengan segala “ketidak beruntungannya”. Entah masalah partime job yang melelahkan, entah masalah dengan kelas bahasa Jepangnya, entah masalah pribadinya dan impian-impiannya dengan wanita Jepang. Tetapi banyak orang bilang, Ajis pun tak kalah cerdasnya. Belajar bagi dia tidak perlu lama-lama. Pernah sekali aku lihat, esok pagi adalah waktu ujian dan jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Sementara Mije menyelesaikan latihan soal-soalnya, Ajis lebih memilih tidur dan memulai belajar di pagi hari. Namun setiba usainya ujian, Ajis keluar ruang ujian lebih dahulu, sementara Mije masih berkutat dengan kertas ujiannya. Perkara hasil dan nilai akhir, aku tak pernah tahu. Pastinya semua memiliki self satisfaction masing-masing.
Rasa persaingan di antara keduanya memang sangat wajar dalam diri anak muda yang sedang bergejolak. Semua ingin berjuang menjadi yang terbaik. Semua ingin eksistensi nya diakui komunitasnya. Semua ingin berjuang menata diri menajdi yang terbaik dalam bidangnya masing-masing. Sebab jati diri bukanlah masalah pencarian melainkan sebuah proses penciptaan.
Isu terpanas, adalah pembentukan “MFC-Mije Fans Club” yang memang secara non-hukum sah adanya. Hal ini diutarakan Mije usai latihan sepak bola dalam acara Vending Machine Meeting. Dengan `menunjuk`, Mohd. Norelliyas sebagai Presiden dan menunjuk Ajis sebagai vice presidennya. Saat itu, Ajis sedang tidak ikut serta, walhasil mendengar berita itu, beliau pun tak mau kalah. Dengan mempublikasikan `telah dibentuk` nya pula AFC-Ajis Fans Club kepada rekan-rekan terdekat dan mengaku `telah menjadikan` Mije sebagai marketing director nya. Tentu saja, hal ini manjadi gelak-tawa bagi kawan-kawan Indonesia-Malaysia di sini. MFC dan AFC memang hanya klub buatan dan fiktif keberadaannya. Namun secara esensi mengandung muatan persaingan yang erat di antara pemilik nya, Mije dan Ajis berturut-turut.
Namun, tak jarang pula, keduanya masak bergantian. Hari ini Mije masak, dan melebihkannya untuk Ajis. Sering juga Ajis masak dan mengajak Mije makan bersama sebagai tanda ingatan karib sahabat. Ya, itulah rasa sebenarnya Mije dan Ajis yang duduk bersebelahan malam ini ketika kami sekedar duduk minum kopi di salah satu sudut Okinawa, tak jarang pula tertawa bersama atas obrolan yang diperbincangkan.
Mulut boleh berkata bohong, hati bisa tidak berkata jujur. Namun rasa selalu mencoba memunculkan perangai yang terkandung di dalamnya. Bersaing namun tetap saling peduli. Merasa lebih baik, namun saling memberi koreksi. Menjatuhkan, untuk saling meninggikan. Itulah saat-saat benci menjelma menjadi rasa cinta yang memenuhi keduanya walau tak ingin secara lugas menyampaikannya. Karena memang, cinta tak selalu berwujud bunga.
Selasa, 22 July 2008
andika saputra
(sebuah profilisasi: Hamizan bin Idris & Rafiz Firdaus)


waduh… bang titip pesen ma mereka ya…
cewek indonesia (krn ak gak tau klo cewek luar negri) cenderung serem liat otot yang lebay (oya mereka kan cari cewek jepang ya?)
oya titip salam juga buat mereka.
hahaha…
*geleng2 kepala*
tapi seru juga ya persahabatan mereka