Akhirnya aku dapat jawaban yang lebih rasional dan powerfull mengapa para pendaki serasa menemukan jiwa yang sesungguhnya di puncak gunung??
Seharian penuh, aku uring-uringan menghadapi laporan-laporanku yang belum selesai. Dan memang tak akan pernah selesai ketika hanya menggerutu dan mengeluh. Semalam sudah aku tekadkan menyelesaikannya dalam malam itu. Namun pikiranku serasa full and stag. I dont know. Aku terlalu berpikir kompleks buat laporan yang menurutku, bagi mahasiswa tingkat 3 adalah sederhana. Mereka menerima apa adanya, mengerjakan, dan menyelesaikannya. Tapi menurutku tetap seadanya. Hatiku selalu melawan dan melakukan perlawanan.
“Ini yahh.. laporan ini menurut gue gak sesuai dengan tujuan apa yang ingin dicapai”
“Tujuannya adalah agar mahasiswa mengetahui cara menganalisis rumput laut kering”
“Catet: mengetahui cara MENGANALISIS…!!!” “Artinya tujuan ini bersifat praksis, dan kalau mau tahu parameternya laporannya gak gini, buat aja praktikumnya semua mahasiswa melakukan pengujian dan buat kesimpulan akhir, itu mutu rumput laut kering bagaiamana,.. pake kuesioner yang isinya: APAKAH ANDA sudah MEMAHAMI CARA UNTUK MENGANALISIS MUTU RUMPUT LAUT KERING?? Terus ada ujian praktikum lagi”
“Gak tau yahh,,, gue feel ini agak kurang sesuai aja… TINPUS nya diusahakan lengkaplahh, da info ini lahh,, ituu lahh yang sebenernya gak kepake…. untuk menjadi sebuah referensi pembahasan..”
“Di tingkat akhir kaya gini, gue ngerasa sistem pendidikan kita ini kaya tembok tinggi yang besar dengan kurikulum bertumpuk, yang peserta didiknya terkungkung, Gak tahu mau menjadi apa…”
“Kita lihat aja nanti,, ketika lingkungan luar kampus sudah mulai terlihat, berapa banyak ilmu yang bisa diaplikasikan”
Gua rehaat aahh.,.. capek!
***
Dalam-dalam aku berpikir, menikmati sajian waktu Dhuha yang luar biasa indah. This is perfect.
“Rabb, aku yakin cobaan yang engkau berikan tidak akan melebihi kapasitas yang aku miliki”
“Rabb, yang Maha Adil, Yang Maha Kasih dan Sayang, aku yakin betul dengan kekuasaanmu,,, Rabb..”
“Berikanlah aku kesempatan untuk belajar dari semesta, dan jika aku menjadi guru, jadikanlah aku guru sekolah alam semesta”
***
Aku ingat,, ketika dulu menyelam di Okinawa
“BaaaAANg, apa sebenarnya kenikmatan seorang penyelam??”, teriakku sembari water trappen kepada rekanku.
“ehhmmm apaa yahhh??? ketikaaa diaaa bissaaaa melihaaatt duniaaa yangg oraangg laaeen gaaak bisaaa lihaat”.. jawabnya sambil mengatur nafas.
Terus apa donk, kenikmatan bagi seorang pendaki gunung??
Ketika menjejakkan kaki di puncak gunung, itulah kenikmatan bagi semua pendaki gunung. Persoalannya bukanlah terletak pada puncak gunungnya. Pemandangannya pun biasa saja, tetapi mencapai puncak sebuah gunung, dan memandangi seluruh semesta setelah keluar masuk hutan, menapaki dinding-dinding cadas, bercanda dengan dahaga, bermandi debu, berpapasan dengan tepi jurang dan pusara, maka di sanalah terdapat sebuah kenikmatan “kemenangan”. Kemenangan sebuah proses.
Puncak mahameru dapat dilihat di youtube, di search di google. atau dibaca di novel 5 cm. atau pergi dengan helikopter dan menjejakkan kaki di puncaknya.. Tetapi PERASAAN SEBUAH KEMENANGAN…. Kenikmatan sebuah akhir perjuangan akan berbeda rasanya Tanpa “PROSES PENDAKIAN”..
hupffhh..
Akhirnya, aku membuktikan kalau janji Allah benar.
Take Action Miracle Happen, No Action Nothing Happen
Tidak percuma duduk seharian di depan laptop. 1 laporan fully completed, 2 laporan tinggal haspem. malam ini kerjakan 2 laporan lagi dan finishing yang dua…
Siap2 buat UTS/.. MEstaAKuuNG!!..
bismillah
dika